Beranda Sejarah Tiga Ulama Berdarah Jawa Yang Mewarnai Kurikulum Pendidikan Dayah di Aceh

Tiga Ulama Berdarah Jawa Yang Mewarnai Kurikulum Pendidikan Dayah di Aceh

Harakah.id –Tidak semua kitab pegangan pengajaran di Dayah adalah karya tulis ulama tanah Arab. Ada beberapa nama ulama Nusantara yang turut menyumbang karya mereka di dalamnya. Termasuk di antaranya ulama berdarah Jawa.

Dayah adalah sebutan untuk lembaga pendidikan agama khas Aceh. Agar sebuah lembaga dapat disebut Dayah, bukan sekedar bale beuet atau langgar, ia setidaknya harus memiliki beberapa jenjang pendidikan dengan kurikulum yang teratur. Pembagian jenjang kelas biasanya dibagi dengan mengacu pada kitab fikih yang dipelajari di dalamnya. Sehingga ada kelas Matnut Taqrib, Fathul Qarib atau Fathul Mu’in, berdasarkan kitab fikih yang dipelajari pada masing-masing kelas. Di samping kajian fikih tentu saja masih banyak mata pelajaran lain dengan kitab pegangan tertentu.

Kitab yang mengisi silabus pembelajaran tidak berlaku secara seragam di seluruh Aceh, dalam beberapa cabang ilmu terdapat perbedaan antara kitab yang digunakan antara satu dayah dengan yang lain. Kurikulum sebuah dayah cabang biasanya merujuk pada kurikulum yang digunakan oleh dayah induknya. Dayah induk di sini merujuk kepada dayah tempat dimana tokoh ulama pendiri dayah cabang itu menuntut ilmu sebelumnya. Oleh karenanya dengan melihat karakter penggunaan kitab dalam kurikulum sebuah dayah, kita pun dapat mengetahui induk yang menaungi dayah tersebut. Nantinya boleh jadi daftar kitab dan muallif yang disebut di bawah ini hanya berlaku di sebagian dayah saja.

Di antara kebiasaan yang berlaku di Aceh, ketika memulai mengkaji sebuah kitab, khususnya kitab fikih sebagai mata pelajaran poros sebuah jenjang kelas, akan diadakan acara khusus dimana pembacaan muqaddimah kitab akan dibimbing oleh seorang ulama besar atau setidaknya pengajar yang jauh lebih senior dari guru kelas. Acara permulaan kitab fokus mempelajari identitas awal kitab dan pengarangnya, tujuannya untuk menjalin keakraban jiwa pelajar dengan sang penulis kitab. Mengenali nama-nama muallif kitab adalah sesuatu yang penting bagi pelajar karena tentu mempengaruhi pemahamannya terhadap isi kitab.

Tidak semua kitab pegangan pengajaran di dayah adalah karya tulis ulama tanah Arab. Ada beberapa nama ulama Nusantara yang turut menyumbang karya mereka di dalamnya. Termasuk di antaranya ulama berdarah Jawa. Yang dimaksud berdarah Jawa di sini adalah mereka yang memilki garis keturunan Jawa, meskipun karir keilmuan mereka dihabiskan di Timur Tengah, atau malahan mereka juga dimakamkan di Timur Tengah. Tiga nama besar di antaranya adalah:

Syaikh Nawawi al-Bantani

Nawawi al-Bantani dapat dikatakan merupakan salah satu nama paling banyak menyumbang kitabnya dalam kurikulum dayah. Bahkan jika dibandingkan dengan ulama Timur Tengah sekalipun. Beberapa kitab beliau yang dipakai diantaranya adalah:

Tījan al-Durari, kitab ini merupakan syarahan untuk sebuah risalah yang ditulis Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam bidang ilmu akidah. Kitab ini membahas poin-poin dalam I’tiqad 50 serta uraian dan dalil-dalilnya, kemudian diikuti dengan beberapa pembahasan pokok akidah lainnya seperti nasab Rasulullah Saw, Syafaat Nabi, kurun terbaik umat Islam dan lain-lain. Di kalangan santri, kitab ini dikenal sebagai salah satu kitab dengan ‘ibarat yang cukup sulit dan menantang. Menurut pengakuan penulisnya, kitab ini selesai ditulis pada tahun 1297 H.

Nashāiḥ al-‘Ibad, kitab ini merupakan syarah untuk kitab karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani berjudul Alfāzh Munabbihāt li Isti’dād Yaum al-Ma’ād. Kitab ini merupakan kumpulan hadis dan atsar nasehat dari Rasulullah Saw, para sahabat dan para ulama. Kitab ini secara menakjubkan menginventarisasi petikan-petikan nasehat yang bersifat list-list dengan angka yang teratur. Meskipun termasuk dalam kajian kitab akhlak atau tasawuf, kitab ini juga menunjukkan ketinggian ilmu al-Bantani dalam ilmu riwayat.

Muraqi al-‘Ubudiyah, kitab ini merupakan syarah untuk kitab Bidāyat al-Hidāyah karya Imam al-Ghazali. Kitab ini membahas tentang kajian tasawuf seputar adab-adab dan etika dalam pergaulan, kitab ini juga membahas hubungan antara akidah dengan tasawuf.

Selain kitab-kitab yang disebut di atas, al-Bantani masih memilki sangat banyak karya tulis yang lain.

Syaikh Abu Hamid Kendal

Ulama yang hidup pada abad ke 19 ini merupakan pernulis kitab al-Salsul al-Madkhal fi ‘Ilm Sharf. Kitab ini membuat pembahasan dalam ilmu Tashrif. Di antara keunggulan kitab ini adalah pencantuman contoh dengan format table yang cukup memudahkan.

Syaikh Abdul Hamid Kudus

Beliau diklaim oleh sebagain orang memilki garis keturunan dari Kudus Jawa Tengah. Meskipun klaim ini diragukan dan tidak memiliki banyak bukti. Karya tulis beliau yang akrab dipelajari dalam kurikulum dayah di Aceh adalah kitab Lathāif al-Isyārat. Sebuah kitab dalam kajian ushul fikih.

Demikian adalah tiga ulama besar berdarah Jawa yang memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kurikulum banyak dayah di Aceh. Hal ini menegaskan hubungan yang kuat antara berbagai daerah di Nusantara. Hubungan yang didasarkan kepada jaringan ilmu pengetahuan dalam kerangka akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah serta kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian ajaran Islam melalui kitab kuning.

REKOMENDASI

Macam-Macam Zakat yang Harus Kita Bayar Ketika Memenuhi Syarat

Harakah.id - Macam-macam zakat ini wajib kita bayar jika telah memenuhi syarat. Secara garis besar, ada dua macam zakat, yaitu zakat...

Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Harakah.id - Kiai Ridwan menggambar lambang NU berdasarkan mimpi dari salat istikharah yang dilakukannya. Lambang yang kemudian disetujui Kiai Hasyim Asy'ari...

“Kunikahi Engkau dengan Mahar Hafalan Surat Ar-Rahman”; Romantis Sih, Tapi Apa Boleh?

Harakah.id - Mahar hafalan surat-surat dalam al-Quran kian trend. Pasangan laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan semakin tampak romantis dan islami...

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.id - Muhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...