Beranda Sejarah Timbuktu, Pusat Peradaban Islam di Afrika Barat yang Akhirnya Terisolir

Timbuktu, Pusat Peradaban Islam di Afrika Barat yang Akhirnya Terisolir

Harakah.idTimbuktu salah satu pusat peradaban Islam di benua Afrika. Sejarah mencatat, pada abad ke-12 M Timbuktu menjadi sentra perdagangan di era kejayaan Islam. Rakyat pun hidup sejahtera dan makmur. Timbuktu salah satu pusat peradaban Islam pada masa lalu.

Timbuktu, salah satu pusat peradapan Islam di benua Afrika yang termasyhur. Sejarah mencatat, pada abad ke-12 M Timbuktu menjadi sentra perdagangan di era kejayaan Islam. Rakyat pun hidup sejahtera dan makmur. 

Lokasi pusat peradaban Islam tersebut, tepatnya berada kawasan perdagangan Trans Sahara. Sekarang merupakan tempat penyaluran garam  dari Toudenni. 

Asal  Mula Timbuktu

Timbuktu  didirikan oleh sebagian besar terdiri dari  Suku Tuareg, Songhay, Fulani dan Moor awal abad ke-10. Asal nama Timbuktu bermula dari dari kata Tin yang berarti tempat. 

Sementara itu, kata  Buktu konon diambil dari nama wanita tua tinggal di daerah itu. Atau dengan kata lain Tin Buktu berarti tempat di mana seorang wanita yang bernama Buktu tinggal, kemudian dikenal nama Timbuktu. 

Sejarah Timbuktu pertama kali dibangun abad ke-12 M oleh para arsitek Afrika dari Djenne dan arsitek Muslim dari Afrika Utara. Mereka  mulai membangun kota itu secara perlahan. Pembangunan di Timbuktu menandai pesatnya perdagangan dan ilmu pengetahuan kala itu. 

Pusat Perdagangan Trans-Sahara

Daerah ini disebut central perdagangan di benua  Afrika saat itu. Beragam komoditas ditawarkan mulai emas, gading,  hingga garam. Sebagian besar para pedagang di wilayah tersebut terdiri dari pedagang Tuareg, Moor dan Fulani. Namun, perkembangan selanjutnya daerah ini dikuasai oleh Tuareg 

Aktivitas perdagangan yang tinggi membuat kota ini menjadi ramai. Beberapa kekaisaran mulai Kerajaan Ghana, Kerajaan Mali dari tahun 1324 dan Kerajaan Songhai dari tahun 1468 disebut telah menguasai wilayah itu, setelah menyingkirkan kepemimpinan Tuareg.

Timbuntu yang awalnya berpusat daerah mulai diekspansi oleh Songhai sampai kawasan di Sungai Niger. Rute perdagangan lokan maju pesat dimasa kekuasaan Songhai. Tidak berapa lama kota ini menjadi kaya dan makmur

Pusat Penyebaran Agama  Islam 

Timbutu lokasinya jauh dari padang gurun Sahara, Mali. Pada perkembangan selanjutnya  abad ke-16 sampai ke-18 Timbuktu menjadi tempat penting penyebaran agama Islam. Hal ini terlihat jelas dari berbagai teks suci berasal Kairo, Bagdad, Persia dibawa ribuan kilometer jauhnya untuk dipelajari dan disebarkan ke sepenjuru Afrika. 

Tiga Masjid Bersejarah 

Seperti telah dibahas sebelumnya, Timbuktu disebut sebagai pusat penyebaran agama Islam di Afrika. Di sisi lain penyebaran agama Islam begitu pesat di negeri itu. 

Dampak dari penyebaran agama Islam yang demikian besar, hingga muncul sejumlah masjid bersejarah. Setidaknya ada  tiga masjid bersejarah dijumpai di kawasan ini , yaitu: masjid Djingareyber, Sankore dan Sidi Yahia. Konon kabarnya tiga masjid tersebut dijuluki sebagai oasis di padang Timbuktu 

Pusat Peradaban dan Studi  Islam

Selain sebagai tempat beribadah pada abad ke-14 dan  ke-15. Ketiga masjid bersejarah disebut menjadi tempat tinggal bagi para pelajar. Dari inilah kemudian Timbuktu telah berkembang sebagai salah satu kota pusat ilmu pengetahuan, bahkan disebut sebagai peradaban Islam yang termasyhur. 

Pada masa berikutnya Timbuktu berkembang pesat menjadi pusat pembelajaran serta sentra perdagangan. Di abad ke-12 M, kota ini telah memiliki 3 universitas yaitu Sankore University, Jingaray University dan Sidi Yahya University  dan 180 sekolah Al-Quran. Inilah masa keemasan peradaban Islam di Afrika. 

Indikasi lain, Timbuktu dahulu sebagai pusat  peradaban dan studi Islam ditemukannya adalah berdirinya Universitas Sankore. Universitas ini dibangun oleh seorang wanita Mandika yang menyumbangkan dananya untuk pembangunan universitas tersebut. 

Universitas ini dilengkapi 400-700 ribu judul buku. Dari sinilah muncul ilmuwan dan ulama kenamaan lainnya mulai Muhammed Al-Kaburi hingga Ahmad Baba As-Sudane 1564-1624 M. Ia rektor terakhir Universitas Sankore yang menulis 60 beragam judul buku dari hukum sampai astronomi. 

Namun, warisan Ahmad Baba banyak yang hilang ketika situasi Mali tidak aman. Saat itu Ahmad Baba pindah dan menetap ke Maroko selama belasan tahun inilah sejumlah karyanya raib. 

Karya-karyanya didasarkan pada pengalaman subyektif serta dilengkapi dengan landasan agama yang kuat. Pemikiran Ahmad Baba dipandang sebagian sebagian ilmuwan memiliki pengaruh bagi dunia Islam. Hal ini terlihat dari literatur Islam pada abad pertengahan semakin berkembang. 

Penduduknya Gemar Membaca Buku

Di era kejayaan Islam ilmu pengetahuan dan peradaban tumbuh sangat pesat. Rakyat di wilayah itu gemar membaca buku. Minat membaca demikian tinggi sehingga permintaan buku pun meningkat. 

Setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi bermacam jenis buku. Perdagangan buku di kota itu cukup menjanjikan keuntungan dibanding lainnya

Yang Tersisa di Timbuktu

Diketahui, di Afrika Barat pusat peradaban Islam yang disebut Timbuktu. Banyak manuskrip peninggalan kaum intelektual Muslim hingga mencapai ratusan ribuan. Manuskrip tersebut  terdiri dari ilmu astronomi hingga matematika.

Dahulu manuskrip-manuskrip itu sempat disimpan menjadi koleksi pribadi dan disimpan perpustakaan pemerintah untuk kepentingan publik. Terkait manuskrip yang terdapat di Timbuktu, orang-orang Eropa mulai tertarik kemudian membawa manuskrip dalam jumlah besar ke Eropa. Namun manuskrip ini mulai terancam punah, karena jumlahnya terus berkurang. 

Selain manuskrip, dahulu banyak perpustakaan berdiri di Timbuktu, salah satunya perpustakaan pribadi milik Ahmad  Baba, dengan jumlah 1. 600 judul buku.

Modernisasi Timbuktu

Keberadaan perpustakaan di Timbuktu mulai terancam setelah munculnya kerajaan Mali, yang dipimpin Mansa Musa 1307- 1332 M menguasai Timbuktu. 

Ia melakukan gebrakan baru setelah, Ia menjadi pimpinan kerajaan Mali, salah satunya mengubah Timbuktu menjadi kota modern. Masjid Jingaray kemudian dilanjutkan membangun istana kerajaannya Timbuktu hingga didirikan masjid di Djenne dan masjid agung di Gao membuat Kerajaan Mali terkenal di dunia. 

Tahun 1339 M Timbuktu dikuasai Raja Mossi dan sejak itu kota tersebut terus menjadi rebutan penguasa dari penguasa kerajaan Songhai 1492 M, Askia Mohammed mengambil alih kekuasaan di Timbuktu 1493 M. 

Dan akhirnya tahun 1893 Timbuktu ditaklukan oleh pasukan militer Maroko kemudian tahun 1960 Mali memproklamirkan kemerdekaannya. Kini kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di Benua Barat itu berubah menjadi wilayah yang terisolasi dan terpencil. Tidak ada keramaian seperti 900 tahun lalu saat Islam mencapai kejayaan di wilayah itu. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...