Beranda Keislaman Hadis Tingkatan-Tingkatan Ahli Hadis, Dari Level Murid Hingga Amirul Mukminin Dalam Hadis

Tingkatan-Tingkatan Ahli Hadis, Dari Level Murid Hingga Amirul Mukminin Dalam Hadis

Harakah.id Tingkatan-tingkatan ahli hadis biasanya dipilah berdasarkan kuantitas hafalan dan kualitas penguasaan seseorang terhadap hadis. Pemberian kelas-kelas dan derajat dalam dunia ahli hadis bukanlah sesuatau yang terlalu baku dan formal, artinya ada sebagian ulama yang menetapkan istilah kelas dan derajat para ahli hadis kemudian menyebutkan kriteria dan tokoh yang berada dalam kelas tersebut. Pada pembahasan kali ini kita akan memaparkan beberapa contoh penjelasan derajat dan kelas dalam dunia ahli hadis berdasarkan penjelasan para ulama.

Al-Manawi dalam kitab Awai’l Syarh al-Syamai’l  menyebutkan tingkatan-tingkatan ahli hadis sebagai berikut:

  1. Al-Thalib yaitu para pemula dalam pembelajaran ilmu hadis
  2. Al-Muhaddits, yaitu orang yang mampu menyampaikan riwayat-riwayat hadis dan memahami seluk beluk kajian dirayah hadis.
  3. Al-Hafizh, yaitu orang yang mampu menghafal seratus ribu hadis lengkap dengan konten (matn) dan rantai transmisinya (sanad)
  4. Al-Hujjah, yaitu orang yang mampu menguasai 300 ribu hadis.
  5. Al-Hakim, yaitu orang yang menguasai keseluruhan hadis yang diriwayatkan dari rasulullah Saw.

Akan tetapi tingkatan-tingkatan ahli hadis di atas ditolak dan tidak diakui oleh Syaikh Shiddiq al-Ghumari. Beliau mengatakan bahwa klasifikasi dan kriteria yang diberikan oleh al-Munawi di atas adalah sesuatu yang tidak dikenal oleh para ahli hadis. Beliau di antaranya mengkritik pemberian istilah Al-Thalib untuk orang yang mulai mempelajari hadis, karena istilah tersebut dapat diberikan pada penuntut ilmu apapun tanpa terkhusus pada penuntu ilmu hadis saja.

Kemudian istilah al-Hujjah merupakan istilah dalam menilai derajat keadilan para perawi hadis bukan istilah dalam menilai kuantitas hafalan riwayat hadis. Istilah al-Hujjah sendiri adalah derajat di atas derajat tsiqah dalam penilaian kredibelitas seorang perawi. Selain itu istilah al-Hakim sendiri dalam dunia hadis tidak ada kaitannya dengan kuantitas hafalan dan kualitas periwayatan. Ia justru merupakan sebuah gelar elit yang diberikan kepada sebagian tokoh besar dalam dunia hadis. Diantaranya adalah Muhammad Ibn Muhammad Ibn Ishaq al-Naisaburi (W. 378 H). gelar al-Hakim sendiri diantaranya dinisbatkan kepada beliau oleh al-Zahaby. Ulama lainnya yang diberikan gelar al-Hakim adalah murid dari ulama yang disebutkan di atas yaitu Muhammad Ibn  Abdullah al-Naisabury, penulis kitab al-Mustadrak (W. 405 H).

Baca Juga: Lima Ahli Hadis Perempuan Guru Imam Adz-Dzahabi yang Tidak Menikah

Kesimpulannya, Syaikh Shiddiq al-Ghumari menolak istilah tersebut karena adanya tumpang tindih istilah-istilah tersebut dengan istilah lainnya yang lebih dulu berlaku dalam kajian ilmu hadis. Menurut Syaikh Shiddiq al-Ghumari sendiri tingkatan-tingkatan ahli hadis yang benar adalah sebagai berikut:

Pertama Al-Musnid. Yaitu orang yang dapat menguasai perihal sanad hadis dari sisi kesinambungan atau keterputusannya dengan istilah-istilah tertentu

Kedua Al-Muhaddis. Yaitu orang yang memperoleh riwayat dari kutub al-Sittah (kitab dokumentasi hadis yang enam dan dianggap paling tinggi kualitasnya yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasai’y, dan Ibn Majah), ditambah dengan al-Muwattha’ imam malik, Sunan al-Darimy, Daruquthny, al-Baihaqy, al-Mustadrak al-Hakim dan Musnad Imam Ahmad. Artinya mampu menghafal sangat banyak matan hadis.

Untuk masa sekarang, gelar tersebut memadai bagi orang yang merujuk beberapa kali dalam kitab jami’ al-Shaghir hingga hadis-hadis di dalamnya tersimpan dalam memorinya, artinya ia dapat mendatangkan hadis tersebut saat ia membutuhkannya. Dalam kitab jami’ al-Shaghir sendiri terdapat sekitar 10 ribu hadis baik yang shahih, hasan, dhaif maupun maudhu’.

Ketiga Al-Mufid. Gelar ini dimunculkan pada abad ketiga hijriah. Menurut penjelasan al-Zahaby gelar tersebut berada di bawah al-Hafizh. Diantara yang diberikan gelar tersebut adalah  Abu Sulaiman Hamad Ibn Muhammad al-Khathaby (W: 383 H) penulis kitab Ma’alim al-Sunan. Beliau adalah salah satu guru dari al-Hakim penulis al-Mustadrak.

Baca Juga: Tidak Hanya Sahih Dan Sunan, Ada Beragam Model Penulisan Kitab Hadis yang Wajib Kamu Tahu!

Gelar al-Mufid sendiri diberikan bagi orang yang telah memenuhi kriteria al-Muhaddits ditambah mereka pernah menghadiri majelis imla’ hadis seorang al-Hafizh hingga riwayat yang ia dengar dan pahami lebih banyak dari yang ia tidak dengar dan pahami. Ia juga memahami periwayatan dari sisi nilai kualitasnya baik yang tinggi dan yang rendah, dan mengerti ilat-ilat hadis

Keempat Al-Hafizh. Gelar ini diperselisihkan kriteria orang yang layak memperolehnya. Ada ulama yang sangat ketat dan ada yang sedikit longgar dalam menetapkan kriterianya. Kriteria yang ideal untuk seorang al-Hafizh adalah menghafal matan hadis tidak kurang dari 20 ribu hadis, menghafal sanad-sanad hadis serta nilai kualitasnya mulai dari yang shahih dan yang tidak, memahami dengan baik derajat dan identitas para perawi hadis seukuran dimana yang mereka kenali derajat dan identitasnya lebih banyak dibandingkan yang tidak mereka ketahui. Atau dengan gambaran seandainya ahli hadis tersebut mengatakan tidak mengetahui identitas dan kualitas seorang perawi, maka arti nya rawi tersebut memang benar-benar jarang dikenal dalam dunia hadis.

Orang-orang yang memperoleh gelar tersebut dapat dilihat pada kuantitas hafalanya, misalnya yahya Ibn Ma’in mengatakan bahwa Ibn al-Mubarak menghafal 20 ribu hadis. Yazid Ibn Harun mengaku menghafal 40 ribu hadis.  Al-Kirmany mengatakan bahwa Sa’id Ibn Manshur pernah menyampaikan sekitar 10 ribu hadis kepadanya hanya berdasarkan hafalannya.  Abu Dawud pernah mengatakan bahwa ia dapat menyampaikan 6 ribu hadis dari hafalannya. Imam Bukharai mengatakan  bahwa beliau menghafal 100 ribu hadis Shahih dan 200 ribu yang tidak shahih. Al Hafizh Abu al-‘Abbas Ibn ‘Uqdah mengatakan bahwa ia sendiri menghafal 100 ribu hadis lengkap dengan sanadnya.

Gelar al-Hafizh sendiri dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu al-Hafizh dari jalur fuqaha’ seperti al-Thahawy, al-Baihaqy, al-Baji, Ibn al-‘Araby, al-Qadhi ‘Iyadh, imam Nawawi, Ibn Taymiyah, ibn qayyim dan ibn Katsir. Selanjutnya adalah al-Hafizh dari jalur para muhaddits, mereka adalah para penghafal banyak hadis, identitas dan derajat para perawi hadis, kaidah menentutukan keshahihan dan kelemahan hadis.

Kelima Amirul Mukminin. Ini merupakan gelar tertinggi dalam dunia hadis, tidak ada lagi kelas di atas itu. Gelar ini mulai dimunculkan abad kedua hijriah.  Gelar ini diberikan dengan kriteria yang sangat berat yaitu orang-orang yang sangat kokoh tingkat dokumentasi hadisnya mencakup dokumentasi hafalan dan tulisan, memahami pemahaman yang sangat dalam tentang ilat dan rijal hadis, menulis sebuah kitab yang bernilai tinggi secara ilmiah. Disebabkan karena beratnya kriteria tersebut, gelar ini hanya layak dimiliki oelh beberapa ulama hadis saja, tidak lebih dari 20 orang.

Di antaranya adalah imam malik. Gelaran amirul mukminin hadis kepada imam maliki setidaknya dikatakan oleh Yahya Ibn ma’in. akan tetapi imam malik memiliki sedikit kekurangan yaitu rihlah atau petualangan hadis beliau yang tidak luas karena beliau hanya menetap di madinah, sehingga ada banyak hadis yang boleh jadi terluput dari beliau. Namun imam malik sangat kuat hafalannya dan memahami dengan sangat baik tentang rijal hadis. Kuatnya hafalan imam malik diakui oleh Ali Ibn al-Madany, Yahya Ibn Main, Sufyan Ibn Uyainah. Beliau juga memiliki karya monumental yaitu kitab al-Muwaththa’. Isi kitab al-Muwaththa’ diriwayatkan oleh ratusan ulama langsung dari imam malik.

Baca Juga: Tidak Sahih, Tapi Tidak Daif, Inilah Biografi Hadis Hasan yang Harus Kamu Ketahui

Tokoh lainnya yang diberilkan gelar amirul mukminin adalah imam Bukhari, kualitas dan kuatnya hafalan beliau diakui ole para ulama seperti Ali Ibn al-Madany, Ibn Khuzaimah, al-Tirmizi. Ada yang mengatakan bahwa dalam kapasitas kepakaran hadis, imam bukhari dua puluh derajat lebih tinggi dari pada imam Ahmad dan Ishaq Ibn Rahawaih. Kitab Shahih sendiri berada pada level yang paling tinggi dibandingkan kitab dokumentasi hadis manapun. Kualitasnya telah disepakati oleh seluruh umat Islam sepanjang masa.

Tokoh ulama lainnya yang layak dianugerahi gelar amirul mukminin dalam dunia hadis adalah Daruquthny. Menurut pengakuan al-Hakim, Daruquthny adalah ulama hadis paling agung pada masanya. Hal yang sama juga disebutkan oleh al-Khathib. Al-Zahaby juga manyampaikan kepakaran luar biasa seorang Daruquthny akan terlihat jika menelaah kitab al-‘Ilal tokoh ulama lainnya yang sampai pada level ini adalah Syu’bah, Muhammad Ibn Ishaq, Abdullah Ibn al-Mubarak, Ishaq Ibn Rahawaih dan Ibn Hajar al-‘Asqalany. Ibn hajar dapat dikatakan sebagai penutup para ulama yang layak dikategorikan sebagai Amirul mukminin hadis, tidak ada lagi ulama setelah beliau yang sampai pada level tersebut.

Perlu diingat bahwa kuantitas hafalan yang diperhitungkan dalam kepakaran hadis untuk mencapai level-level tersebut adalah hafalan yang diperoleh dengan cara didengar dari seorang guru yang memiliki rantai proses transmisi hadis dengan cara yang sama sampai kepada Rasulullah. Hal inilah yang diberlakukan oleh para ahli hadis sejak abad-abad pertama. Adapun hafalan yang berasal dari proses ijazah apalagi hafalan dari buku dan kitab catatan hadis tanpa sanad, maka levelnya tidak dapat disamakan dengan hafalan para ulama tokoh-tokoh hadis yang disebutkan di atas.

Baca Juga: Mengenal Ibnu Aqil, Sosok Ahli Fikih yang Juga Terkenal Cerdas Memahami Hadis

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...