Topeng Tari Pangeran Angkawijaya, Penyebar Islam Losari yang Berdakwah Lewat Jalan Kesenian

0
102
Topeng Tari Pangeran Angkawijaya, Penyebar Islam Losari yang Berdakwah Lewat Jalan Kesenian

Harakah.id Topeng tari Pengeran Angkawijaya menandai satu fase dakwah Islam yang kental dengan nilai kesenian dan kebudayaan. Tepatnya di Losari Brebes, Pangeran Angkawijaya berdakwah dan menyebarkan Islam via jalan kesenian.

Setiap tahun, di kecamatan Losari, tepatnya di desa Losari Lor, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, diadakan kirab budaya dalam rangka memperingati khaul Pangeran Angkawijaya. Biasanya, ribuan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Barat ikut memadati jalannya acara kirab budaya dan khaul tersebut.

Pada acara tersebut, Kereta Kencana Singa Barong didatangkan dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon. Kereta Kencana Singa Barong sendiri merupakan buah karya dari Pangeran Angkawijaya.

Selain Kereta Kencana, Pangeran Angkawijaya dikenal dengan pencipta kesenian fenomenal dari Losari yaitu Tari Topeng Losari yang biasa dipentaskan oleh Alm Nyai Sawitri Sang Maestro Tari Topeng Losari Cirebon. Selain itu, konon motif batik Mega Mendung dan corak Gringsing merupakan hasil dari kreasinya.

Pangeran Angkawijaya merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di wilayah Cirebon.  Lahir pada tahun 1518, dan merupakan keturunan dari kerajaan Cirebon dan Demak. Silsilah keturunan Kerajaan Cirebon diketahui dari jalur ayahnya yakni Muhammad Arifin atau yang biasa dikenal dengan Pangeran Pasarean, yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati, sedangkan dari Kerajaan Demak melalui jalur ibunya yakni Ratu Nyawa.

Awal mula pendidikannya, ia dapatkan dari ayahnya sendiri, kemudian dari kakeknya yaitu Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga. Sebab itu, metode dakwah yang digunakan olehnya adalah dengan menggunakan pendekatan budaya dan kesenian.

Pada mulanya, Pangeran Angkawijaya hidup di lingkungan Keraton, namun kehidupan di Keraton tidak begitu membuatnya nyaman. Hal ini dikarenakan ia merasa terkungkung dengan sistem kehidupan Keraton yang serba gemerlap. Sebab itu, ia memilih pergi meninggalkan Keraton.

Dari tanah Cirebon, Pangeran Angkawijaya pergi ke Arah Timur dan menetap di daerah pedukuhan dekat dengan sungai Cisanggarung yang pada akhirnya dinamakan dengan Losari, dan mengembangkan bakat seni dan memulai dakwahnya di daerah tersebut.

Toperang Tari Pengeran Angkawijaya; Kesenian Tari Topeng Losari, Kereta Paksi Naga Liman, dan Kereta Singa Barong

Media kesenian merupakan salah satu bentuk media penyebaran Islam di Cirebon. Penyebaran Islam dengan media kesenian di Cirebon digagas oleh dua tokoh ulama terkenal yaitu Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga. Beberapa jenis kesenian yang dimasukkan nilai-nilai keIslaman oleh keduanya seperti Tari Topeng, Wayang Kulit, Reog, Angklung, dan Gamelan Renteng. Setelah wafatnya Sunan Gunung Jati, penyebaran Islam lewat media kesenian ini diteruskan oleh salah satu cucunya yaitu Pangerang Angkawijaya.

Dalam menyebarkan agama Islam, Pangeran Angkawijaya mengunakan tiga media kesenian yang merupakan hasil kreasinya sendiri, yaitu Tari Topeng Losari, Kereta Singa Barong, dan Kereta Paksi Naga Liman. Tari Topeng Losari sendiri merupakan hasil pengembangan atas Tari Topeng Cirebon yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Sunan Kalijaga.

Dalam pementasannya, Topeng Tari Pangeran Angkawijaya menggunakan siasat bebarengan atau ngamen, dengan memainkan Tari Topeng disertai dengan iringan musiknya. Tujuannya adalah menarik simpati masyarakat untuk hadir dan melihat Tari Topeng Losari tersebut. Pangeran Angkawijaya sendiri tidak menarik uang atas penampilan Tari Topeng Losari kepada masyarakat, namun cukup dengan kalimat syahadat sebagai bentuk imbalan atau upah dari penampilan Tari Topeng Losari.

Daya Tarik yang digunakan Pangeran Angkawijaya adalah dengan memadukan adat masyarakat setempat dengan nilai-nilai keIslaman. Perihal ini dapat dilihat dari ritual doa yang dibacakan oleh dalang Tari Topeng Losari tidak menggunakan Bahasa Arab melainkan dengan menggunakan bahasa Jawa. Hal ini menyebabkan, lambat laun banyak masyarakat yang tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan Islam dan masuk Islam.

Karya seni lain yang merupakan hasil ciptaannya adalah Kereta Singa Barong, dan Kereta Paksi Naga Liman. Sebagaimana dapat dilihat dari ornamen dan bentuk dari dua karya tersebut, bahwa keduanya merupakan dua karya yang di dalamnya memiliki perpaduan nilai kebudayaan, seperti Jawa, Cina, dan Islam. Hal tersebut membuktikan bahwa Pangeran Angkawijaya memiliki nilai toleransi yang tinggi.

Adapun Tujuan Pangeran Angkawijaya menciptakan Kereta Singa Barong, dan Kereta Paksi Naga Liman adalah supaya masyarakat dapat meneladani nilai-nilai filosofi yang terdapat dalam setiap bagian bentuk keduanya, di mana dengan meneladani nilai-nilai filosofi tersebut akan dapat membentuk pribadi yang Islami.

Peninggalan kedua karya Pangeran Angkawijaya yakni Kereta Singa Barong, dan Kereta Paksi Naga Liman, hingga saat ini dapat dijumpai, dan masih terawat dengan baik. Keduanya disimpan di museum Keraton Kanoman Cirebon. 

Pada tahun 1580, Pangeran Angkawijaya meninggal dan dimakamkan di desa Losari Lor, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kendati Pangeran Angkawijaya telah wafat namun hingga saat ini pengaruhnya terhadap corak keberagamaan masyarakat Losari Brebes dan masyarakat Cirebon masih dapat dirasakan.