Tradisi Imsak Gak Ada Dalilnya? Kata Siapa, Baca Dulu Ini

0
115
Dalil Imsak

Harakah.idWaktu kemunculan fajar shadiq tidak selalu bersamaan dengan waktu dikumandangkannya adzan subuh. Waktu imsak adalah ijtihad para ulama didasarkan pada hadis riwayat Imam Bukhari.

Puasa Ramadhan diwajibkan berdasarkan QS. Al-Baqarah: 183. Waktu pengerjaan puasa dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 187, “Dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”

Memperhatikan batasan waktu dalam ibadah puasa menjadi sangat penting, mengingat sah atau tidaknya ibadah puasa, berpedoman pada batasan waktu yang telah Allah tetapkan. Seorang muslim yang berpuasa, maka haruslah menahan makan, minum dan segala perkara yang dapat membatalkan puasa, sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari.

Baca Juga: Tradisi Imsak dalam Literatur Mazhab Syaf’i, Mungkin Ustadz Adi Hidayat Bisa Membacanya Sebelum Menyalahkan

Fajar shadiq (secara harfiah berarti fajar benar) adalah sinar yang membentang secara horizontal antara arah utara sampai selatan, yang diikuti sinar yang lebih terang lalu berlanjut dengan terbitnya matahari. Waktu kemunculan fajar shadiq tidak selalu bersamaan dengan waktu dikumandangkannya azan subuh. Boleh saja fajar shadiq telah mendahului kumandang azan, 2 sampai 3 menit sebelumnya.

Para Indonesia berijtihad, dengan prinsip kehati-hatian, menetapkan tradisi “imsak”. Kata imsak sendiri berasal dari kata amsaka-yumsiku yang berarti menahan, atau menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa; seperti makan, minum, muntah yang disengaja, berhubungan seksual, dan lain sebagainya. Waktu imsak dimulai sepuluh menit sebelum waktu azan subuh. Meskipun demikian, waktu imsak tersebut bukanlah merupakan awal dimulainya puasa.  

Penetapan waktu imsak didasarkan kepada hadis dari riwayat Al-Bukhari,

عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Dari Anas dari Zaid bin Tsabit berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Nabi Saw. kemudian beliau pergi shalat. Aku bertanya, “Berapa (jarak waktu) antara adzan (subuh) dan sahur?” Dia menjawab, “Selama bacaan lima puluh ayat”.

Imam Al-Bukhari menempatkan hadis tersebut dalam sebuah bab yang berjudul “Qadra kam bainas sahuri wa shalatil fajri” (berapa waktu antara sahur hingga shalat subuh). Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa maksud Al-Bukhari adalah batas waktu makan sahur. Ulama nusantara memperkirakan bacaan lima puluh ayat adalah sekitar sepuluh menit.

Inilah dasar penetapan tradisi imsak yang ada di Indonesia. Jadi, tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa imsak adalah bid’ah, mengada-adakan syariat baru.