Beranda Fikih Tradisi Menanam Ari-Ari Setelah Bayi Lahir, Berikut Hukum dan Tata Caranya Dalam...

Tradisi Menanam Ari-Ari Setelah Bayi Lahir, Berikut Hukum dan Tata Caranya Dalam Islam

Harakah.idMenanam ari-ari selepas kelahiran seorang bayi adalah tradisi yang lumrah dilakukan, utamanya oleh masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana pandangan Islam dalam persoalan ini?

Ari-ari adalah gumpalan daging berisi darah atau bagian yang ikut dikeluarkan bersama jabang bayi. Ketika bayi lahir dan dipotong pusarnya, gumpalan itu sudah tidak berguna. Sebagian orang Indonesia menganggap ari –ari sebagai sesuatu yang sangat berharga sehingga ia dikubur sambil diberikan sesaji. Biasanya, tempat menguburnya berbeda antara ari-ari laki-laki dan ari-ari perempuan. Di atas timbunan tempat ari-ari dikubur, masyarakat biasanya memberi lampu yang ditutup dengan kuali, paso atau yang lain.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia ada sebuah kepercayaan yang berkembang jika ari-ari bayi tersebut tidak dikuburkan, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada si bayi. Seperti diketahui ketika akan menguburkan ari-ari itu dimasukkan ke dalam kuali kecil yang terbuat dari tanah liat. Ari-ari harus dibungkus dengan kain putih dan disertakan bunga setaman. Ketika akan dikuburkan maka harus diiringi dengan doa, baru kemudian dikuburkan pada lubang yang sudah disiapkan.

Dalam ajaran Islam, menanam ari-ari atau menguburkannya merupakan hal yang sunah. Adapun menyalakan lilin atau menaburkan bunga di atasnya hukumnya makruh, karena dianggap sebagai tindakan membuang-buang harta yang tidak ada manfaatnya.

Begitu juga halnya dengan tradisi Tingkeban, yaitu upacara yang diselenggarakan bulan ketujuh dari usia kandungan. Para ulama membatasinya pada kebolehan bersedekah dan menyelenggarakan majelis doa. Jika ditambah dengan hal-hal lainnya seperti memecah kendi, suami istri harus dimandikan, perut yang berisi jabang bayi harus diberi tali dengan janur kuning, lalu dimasuki cangkir gading, maka hal itu tidak diperkenankan. Sebab memecah kendi, memasang lilin atau lampu (menanam ari-ari) semua itu mubazir, membuang-buang harta, tak ada manfaatnya.

Dalil kebolehan menanam ari-ari disebutkan dalam Kitab Nihayat al-Muhtaj: “Disunahkan mengubur sesuatu (anggota badan) yang terpisah dari orang yang masih hidup atau yang diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut dan darah akibat goresan, demi menghormati pemiliknya.”

Hal serupa juga disebutkan juga dalam Kitab Al-Bajuri: “maksud mubazir ialah memperlakukan harta di luar kewajarannya, yaitu segala sesuatu yang tidak ada gunanya, baik jangka pendek maupun panjang, sehingga mencakup segala hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan.”

Penguburan atau menanam ari-ari dilakukan dengan membersihkannya terlebih dahulu. Kemudian dimasukkan ke dalam wadah, ditutup dan lalu dikubur. Karena ari-ari tersebut pernah menjadi bagian dari bayi. Namun jangan sampai hal tersebut dilakukan dengan keyakinan kalau tidak dilaksanakan akan membuat celaka, atau prasangka buruk lainnya akan menimpa bayi kita.

Sesungguhnya hanya Allah SWT yang memiliki kuasa dan mempunyai kekuatan. Hanya Allah SWT yang dapat memberi manfaat dan madharat. Hanya kepada-Nya kita menyembah dan meminta pertolongan.

Jadi kesimpulannya;

Dalam Islam, menanam ari-ari atau menguburkannya sebenarnya merupakan hal yang Namun jika ditambah dengan menyalakan lilin atau menaburkan bunga, hukumnya menjadi makruh, karena dianggap sebagai tindakan membuang-buang harta yang tidak ada manfaatnya. Jika ia mengarah pada hal-hal berbau syirik, hukumnya menjadi haram.

Penguburan ari-ari dilakukan dengan membersihkannya terlebih dahulu. Kemudian dimasukkan ke dalam wadah, ditutup dan lalu dikubur. Karena ari-ari tersebut pernah menjadi bagian dari bayi. Namun jangan sampai hal tersebut dilakukan dengan keyakinan kalau tidak dilaksanakan akan membuat celaka, atau prasangka buruk lainnya akan menimpa bayi kita.

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...