fbpx
Beranda Gerakan Tradisional, Irrasional dan Ketimuran! Citra Etnografis Kaum Santri dan Antropologi Sarung Dalam...

Tradisional, Irrasional dan Ketimuran! Citra Etnografis Kaum Santri dan Antropologi Sarung Dalam Teropong Pandang Barat

Harakah.idCitra etnografis kaum santri memang sangat dekat dengan stigma tradisional, irrasional dan ketimuran. Mereka dianggap sebagai kelompok masyarakat klasik yang konservatif dan anti kemajuan. Pandangan semacam ini akan lumrah kita temukan dalam penelitian-penelitian etnografis, antropologis dan sosiologis, khususnya dalam teropong pandang Eurosentisme.

Dalam studi-studi antropologis maupun sosiologis, citra etnografis kaum santri dan masyarakat sarungan sudah lumrah kalau dikesankan tradisional. Dalam rujukan dan buku-buku penelitian yang mendominasi ruang akademik kita hari ini, kaum santri dan masyarakat sarungan juga sudah biasa digambarkan feodal, irrasional dan konservatif. Kesan-kesan ini muncul bertubi-tubi. Ia membentuk rerimbunan pengetahuan yang stigmatik dan stereotipe.

Lalu dari mana konstruksi pengetahuan dan citra etnografis kaum santri semacam itu muncul? Begini penjelasannya…

Marx benar kala berkata, “they cannot represent themselves; they must be represented”. Timur [selamanya] tidak akan bisa merepresentasikan diri mereka sendiri, mendefinisikan dan memperjelas eksistensi mereka sendiri. Timur harus direpresentasikan, didefinisikan dan dijelaskan [oleh Barat sebagai juru bicaranya]. Marx benar dan kita melihatnya terpampang jelas di depan mata kita.

Apa yang kita ketahui tentang Timur selama ini hakikatnya adalah penggambaran ulang yang dilakukan Barat. Ia adalah gambaran yang didaur-ulang, dibumbu-bumbui dan ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi sesuai selera Barat. Mereka (Barat) layaknya fotografer atau kameramen yang merekam sebuah kejadian di suatu tempat.

nucare-qurban

Memang, eksistensi si kameramen tidak terlihat dalam video rekamannya, begitu juga si potografer yang tidak terlihat dalam foto-foto hasil jepretannya. Namun, tanpa harus kita pertanyakan lagi, kehadiran mereka sangat menentukan bagi subyek pembaca dalam menafsirkan dan memahami sebuah fenomena yang mereka suguhkan.

Misalnya: ada pertikaian antara kelompok A dan kelompok B. Kebetulan si kameramen pernah sekali mengikuti acara kaderisasi kelompok B dan sedikit paham tentang model politik serta pergerakan kelompok tersebut. Ketika merekam di lokasi kejadian, tempat pertikaian berlangsung, secara tidak disadari, si kameramen tersebut akan memilih patahan-patahan kejadian yang memojokkan kelompok A dan membela kelompok B. Begitu juga sebaliknya. Fenomena pertikaiannya satu, tapi karena direkam oleh ragam tendensi, maka penafsirannya bisa ratusan bahkan ribuan kali. Entah bagaimana caranya, moncong kamera selalu diarahkan pada petak-petak kejadian yang akan membuat pembaca atau penonton berpikir bahwa kelompok A yang salah.

Dalam konteks semacam itu, bekerjalah apa yang dikenal dengan European-Representation. Ia merupakan bingkai besar cara kerja Orientalisme. Mereka menata ulang fakta-fakta yang ditemukan di wilayah-wilayah pedalaman (Timur) untuk disusun kembali sesuai dengan posisi mereka sebagai Barat yang hendak memperkental ketimuran Timur (lihat arti Timurisasi Timur dan arti etnografi). Pada akhirya, singkat cerita, kerja representasi tersebut akan tersistematisasi dan bermetamorfosa menjadi bentuk yang sangat besar berupa kerja-kerja penulisan kembali sejarah (re-writing history) bangsa-bangsa terjajah. Yang lebih menyedihkan lagi, ketika sejarah sudah diamputasi dari kebenaran faktualnya, maka kita terpaksa mengakui jikalau kolonialisme telah berhasil merekonstruksi identitas (re-writing and re-build identity) pribumi terjajah secara khusus dan identitas bangsa secara umum. Tentunya, semua itu bekerja sesuai dengan kepentingan kolonial.

Apa yang dilakukan dalam etnografi-kolonial biasanya dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah dipilah – yang telah disesuaikan dengan posisi, kacamata dan kepentingan si penjajah sebagai “Barat” – untuk diajukan kepada pribumi terjajah. Dari jawaban-jawaban yang ada, si penjajah menarik karakteristik atau ciri-ciri yang menandai kekhasan, keunikan, eksotisme dan keindahan. Ciri-ciri itu yang kemudian diolah untuk mempertegas garis demarkasi antara yang “Barat” dan yang “Timur”, antara yang “modern” dan yang “konservatif”, antara yang “rasional” dan yang “irrasional”.

Dalam mekanisme kerja etnografi-kolonial, pribumi, kaum santri dan masyarakat sarungan berikut tradisi-kebudayaannya diperlakukan dan diposisikan sebagai obyek bisu yang baru berbicara mengenai dirinya setelah diarahkan oleh si penjajah. Atau bahkan, kaum sarungan berbicara namun menggunakan bahasa si penjajah sebagai juru bicaranya. Pribumi terjajah tidak bebas atau berposisi sebagai subyek independen ketika hendak mendefinisikan dirinya sendiri. Ada benang-benang  halus bernama “kontrol” dan “relasi kolonial” yang mengatur, mendisiplinkan dan mengarahkan si pribumi untuk mendeskripsikan dirinya sebagai sesuatu yang unik, irrasional, terbelakang dan tidak ikut perkembangan zaman; beberapa karakteristik yang sangat disukai dan difavoritkan oleh civitas akademia Barat.

Tidak percaya? Coba perhatikan apa yang ditulis Clifford Geertz berikut ini! Katanya, apa yang harus dilakukan seorang etnografer adalah “pergi ke berbagai tempat, pulang membawa oleh-oleh berupa informasi tentang cara hidup orang di sana, lalu menyediakan informasi itu dalam bentuk praksis bagi komunitas profesional” (Geertz, 2002).

Kita preteli satu-satu. Pertama, seorang etnografer harus pergi ke berbagai tempat. Barat sebagai ras unggul dengan budaya Eropa-Amerikanya merasa memiliki legalitas untuk menjelajahi seluruh kawasan-kawasan baru dan terpencil di Timur; menelaah, menguasainya dan memproduksi sejarahnya. Etnografer adalah penjajah-penjajah yang bersenjatakan pena dan kertas. Dalam melakukan penjelajahan itu, kata Geertz, si etnografer Eropa ini harus pulang membawa oleh-oleh informasi tentang cara hidup orang di sana. Artinya, kepergian seorang peneliti bule, semurni apapun niatnya, bisa dipastikan merupakan bagian dari proyek Orientalisme menulis sejarah Dunia dengan kaca mata Eurosentrisme.

Tentu mereka harus pulang ke Eropa. Syaratnya: mereka harus sudah punya laporan dan hasil pengamatan tentang cara hidup, tradisi dan budaya masyarakat pribumi tempat dia meneliti. Cara hidup orang-orang pedalaman ini merupakan data yang sangat berharga bagi orang Eropa untuk perbandingan. Geertz menggunakan kata “di sana” untuk menunjuk “Timur” atau wilayah pedalaman yang merupakan “The Other” dari “Barat” atau “di sini”.

Artinya, mereka memang benar-benar membaca segala situasi, apalagi terkait pribumi yang mereka teliti, dengan kacamata satu arah yang sudah terlebih dahulu mengasumsikan keperbedaan antara “Aku” dan “mereka”. Oleh-oleh berupa data tentang “yang Lain” dari “Barat” itu nantinya akan dihidangkan kepada para pembacanya di Eropa sana dan bahan olahan untuk para [Orientalis] profesional guna mempermatang tradisi Orientalisme sebagai rezim pengetahuan dunia

Apa yang dikatakan oleh Geertz di atas mirip sekali dengan apa yang ditunjukkan Said ketika menggambarkan bagaimana European-representation bekerja mulai dari pengamat yang hadir di lapangan [Timur] hingga menghasilkan laporan yang dinikmati para pembaca Eropa-nya. “The main thing for the European visitor was a European representation of the Orient and its contemporary fate, both of which had a privileged communal significance for the journalist and his French [European] readers” (Said, 2003: 1).

Selain itu, bagi Geertz, seorang etnografer haruslah “meyakinkan pembacanya bahwa apa yang dia katakan [dan dia tulis dalam bentuk laporan] adalah hasil penetrasi mereka yang nyata atas/oleh bentuk kehidupan yang lain, atau bahwa mereka pernah “betul-betul berada di sana’” (Geertz, 2002).

“Betul-betul di sana” artinya ia hidup dan menjadi satu kesatuan dengan masyarakat berikut etnik yang dikajinya. Apa yang penting dalam laporan dan teknik kepenulisan etnografi adalah gambaran yang disuguhkan oleh si etnografer terhadap masyarakat pribumi yang menjadi obyek pengamatannya. Hasil penetrasi yang dimaksudkan Geertz adalah hasil kontak atau relasi Barat-Timur yang dipersinggungkan dalam proses pengamatan dan penelitian. Penggambaran melalui kaca mata si etnografer sebagai Barat itulah yang ingin dicapai dan dinikmati, bukan masalah penjelasan si stnografer sesuai dengan fakta lapangan atau tidak.

Oleh karena itu, etnografi-kolonial tidak akan jauh dari model analisa yang menggunakan kategorisasi-kategorisasi, tipologi dan ragam generalisasi. Seperti proyek yang dilakukan Clifford Geertz untuk menyimpulkan tipologi santri, abangan dan priyayi sebagai gambaran umum model keberagamaan Islam orang-orang Jawa. Oleh Bambang Pranowo, dikotomi yang digunakan oleg Geertz dan etnografer orientalis lainnya berdampak pada “menempatkan tradisi-tradisi tertentu lebih superior dari yang lain.”

Akibatnya, menurut Bambang Pranowo, “penilaian-penilaian seperti itu sudah barang tentu bersifat Etnosentris dan menghalangi peneliti untuk memperlakukan tradisi secara obyektif. Ketika Geertz mengatakan santri kolot di Jawa ‘sebenarnya bukan bagian terbesar dari umat Muslim Jawa tapi yang paling sedikit’, dia sesungguhnya sedang mengetengahkan persepsi yang bias modernisme etnosentris” [Pranowo, 2011: 18].

Ketika Bambang Pranowo mengatakan bahwa dikotomi yang dilakukan Geertz disebabkan oleh bias modernisme entnosentris, Said (dan Studi Poskolonial) menawarkan argumentasi yang lebih epistemik sekaligus menampakkan kepentingan di balik rezim etnografi kolonial. Dia berkata, “when one uses categories like Oriental and Western as both the starting and the end points of analysis, research, public policy (as the categories were used by Balfour and Cromer), the result is usually to polarize the distinction—the Oriental becomes more Oriental, the Westerner more Western—and limit the human encounter between different cultures, traditions, and societies” (Said, 2003: 45-46).

Coba perhatikan! Kata Said, “ketika mekanisme kategorial seperti “Timur” dan “Barat” telah mengakar dalam asumsi-asumsi awal, akhir kesimpulan, mode penelitian dan kebijakan publik sekaligus, maka tujuan yang hendak dicapai biasanya adalah polarisasi distingtif (perbedaan) – [yang berlanjut atau memiliki konsekuensi pada proses] men-Timur-kan Timur dan mem-Barat-kan Barat!!” Dan fakta inilah yang benar-benar terjadi dalam model penelitian Geertz serta kawan-kawan orientalisnya tersebut, bukan hanya sekedar bias modernisme etnosentris.

Jadi itulah cara kerja kolonial menciptakan sebuah citra etnografis kaum santri yang selalu tampak negatif. Dari situ kaum santri dan masyarakat sarungan sedari awal memang didesain untuk jadi subyek yang minder, tidak percaya diri dan tersudutkan.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...