Beranda Keislaman Muamalah Trend Tahfidz dan Belajar al-Quran Meningkat, Bolehkah Seorang Guru Mengambil Upah dari...

Trend Tahfidz dan Belajar al-Quran Meningkat, Bolehkah Seorang Guru Mengambil Upah dari Mengajar al-Quran?

Harakah.id – Di tengah trend keislaman yang meningkat di kalangan muslim kota, belajar al-Quran maupun tahfidz al-Quran jadi primadona ekstrakulikuler. Orang tua rela membayar sejumlah uang agar anaknya bisa menghafal al-Quran atau sekedar bisa membacanya. Lalu pertanyaannya, bolehkah bagi seseorang mengambil upah dari mengajarkan al-Quran?

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللّهِ

“Sesungguhnya sesuatu yang paling berhak kamu ambil upah adalah Kitab Allah.” (HR.Al-Bukhari)

Al-‘Asqalaniy dalam Fath al-Bari (4): 453 menjelaskan adanya perbedaan pendapat para ulama dalam sistem penggajian, honor, atau upah dalam pendidikan dan pengajaran:

Baca Juga: Tidak Ada Harakat, Titik dan Tanda Baca Pada Awal Mula Pembukuan al-Quran
  1. Jumhur ulama memperbolehkan menerima upah dalam pengajaran berdasarkan Hadis di atas.
  2. Ulama Hanafiyah melarang penerimaan upah dalam pengajaran dan memperbolehkannya dalam pengobatan atau ruqiyah saja. Alasan mereka mengajarkan Al-Qur’an adalah ibadah pahalanya dari Allah, kebolehan menerima upah dalam ruqiyah karena adanya Hadis tersebut.

Syekh ‘Athiyah Muhammad Salim dalam Syarah Bulugh Al-Maram, menjelaskan bahwa berdasarkan Hadis di atas hukum menerima upah atau gaji dalam pengajaran Al-Qur’an atau membacakannya ada beberapa pendapat:

  1. Jika pemberian upah atau gaji dari kehendak sendiri dari orang yang diajar atau yang dibacakannya boleh saja.
  2. Jika diupahkan mengajar atau diberi upah karena membaca Al-Qur’an tidak diperbolehkan.

Kesimpulannya, tidak ada larangan secara mutlak dan secara tegas dalam sistem gaji, honor dan upah dalam pendidikan dan pengajaran, tetapi bergantung pada kondisi yang dihadapi karena memungkinkan kompromi pada Hadis-Hadis Shahih yang lahirnya kontra.

Abdul Al-Muhsin Al-Abadi dalam Syarah Abi Daud (3): 403 pada bab upah adzan menyatakan bahwa kasus upah atau penggajian untuk tukang adzan, imam masjid, dan guru pengajar Al-Qur’an atau ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah melahirkan tiga pendapat;

Baca Juga: Kenyatannya, Tanpa Hadis, Al-Quran Memang Akan Sulit Dipahami
  1. Boleh menerima upah dengan alasan Hadis upah pada ruqiyah sebagaimana Hadis di atas.
  2. Tidak boleh menerima upah secara mutlak. Bolehnya menerima upah apabila berbentuk barang yang diwakafkan bagi kaum muslimin atau uang kas dan atau amal dari dermawan.
  3. Perumpamaan pengajaran Al-Qur’an bagaikan wali anak yatim, jika dia orang mampu tidak mau mengambil upah dan bila ia miskin ambillah dengan makruf.

Dari berbagai pendapat di atas tidak ada yang memperbolehkan honor atau gaji secara mutlak. Bolehnya, selalu ada catatan yang intinya dalam profesionalis guru agama atau Al-Qur’an jangan tawar menawar seperti tukang kayu, tukang besi, atau profesi lain yang semata mencari upah, bukan karena kewajiban dan bukan mencari pahala dari Allah SWT.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...