Beranda Keislaman Ibadah Tujuh Jenis Pandangan Seseorang Kepada Lawan Jenis, Masing-Masing Punya Konsekuensi Hukumnya Lho!

Tujuh Jenis Pandangan Seseorang Kepada Lawan Jenis, Masing-Masing Punya Konsekuensi Hukumnya Lho!

Harakah.id Tujuh jenis pandangan seseorang kepada lawan jenisnya ini dijelaskan dalam kitab Kifayatul Akhyar. Ini terkait dengan status hukum dan kebolehan memandang lawan jenis dalam Islam.

Syekh Taqiyyuddin Al-Hishni dalam kitab Kifayatul Akhyar menjelaskan bahwa pandangan mata orang laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya terbagi menjadi tujuh jenis pandangan, yaitu:

1. Memandang orang lain tanpa keperluan

Laki-laki dan perempuan yang sudah baligh dalam saling memandangnya ada dua kemungkinan, yaitu karena ada keperluan dan tidak ada keperluan. Laki-laki yang memandang perempuan ada dua macam:

  1. Bersyahwat
  2. Tidak bersyahwat

Adapun laki-laki yang bersyahwat memandang perempuan tanpa ada keperluan mungkin mendatangkan fitnah dan mungkin tidak. Pandangan yang akan membawa fitnah hukumnya haram. Tetapi kalau memandang tidak membawa fitnah, hukumnya diperselisihkan, namun kebanyakan ulama mengharamkannya. Karena berawal dari pandangan, kemudian mengakibatkan fitnah serta menggerakkan syahwat, sedang agama Islam menutup pintu maksiat.

Laki-laki yang memandang perempuan dengan tidak ada syahwat, bagaikan memandangnya binatang jantan pada binatang betina dari jenis lain yang tidak bisa berhubungan nikah. Seperti pandangan laki-laki yang sudah tua dan lain-lain.

Bagaimana hukumnya perempuan memandang laki-laki lain? Hal ini ada beberapa pendapat, menurut Rafi’i perempuan boleh melihat laki-laki lain selain antara pusar sampai kedua lututnya.

Pendapat lain mengatakan perempuan hanya boleh melihat  anggota tubuh laki-laki sebagaimana laki-laki boleh melihat dari perempuan. Menurit Nawawy, pendapat tersebut yang paling benar, sebagaimana firman Allah Swt, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan pandangannya”(QS. An-Nur:31 )   

2. Memandang kepada mahram

Laki-laki tidak boleh memandang antara pusar sampai kedua lutut perempuan mahramnya, sebab termasuk aurat. Mahram artinya harus dijaga, tidak boleh nikah, maka keduanya bagaikan dua orang laki-laki yang bersentuhan tidak membatalkan wudhu, baik mahram nasab, mushaharah atau susuan.

3. Memandang kepada isteri atau suami 

Laki-laki boleh memandang seluruh tubuh isterinya sebagaimana dibolehkan bersenggama dengannya, asal tidak memandang kemaluannya. Memandang kemaluan hukumnya haram.

Sabda Nabi SAW:

النظر الى الفجر يورث الطمس

“Memandang kemaluan itu mengakibatkan buta”

4. Memandang dengan maksud untuk menikah

Hukum melihat perempuan yang akan dinikahi hukumnya Sunnah, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Saw kepada Mughirah bin Syu’bah:

“Lihatlah (pada perempuan) sebab dengannya akan lebih menjamin kekekalan kamu berdua.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Menurut imam Hakim, boleh melihat berulang kali, baik dengan izinnya atu tidak. Kalau sukar memandangnya, bisa menyuruh seorang perempuan agar menjelaskan keadaan dan sifatnya.

5. Memandang untuk mengobati

Memandang kepada perempuan untuk mengobati hukumnya boleh (kalau sudah tidak ada perempuan lain yang bisa mengobati). Rasulullah pernah menyuruh Abu Thayyibah untuk membekam Ummu Sulaim (HR. Muslim). Kebolehan tersebut harus disaksikan oleh suami atau muhrimnya (tidak boleh sendirian).

6. Memandang untuk kesaksian 

Di antara sebab kebolehan memandang payudara perempuan yang menyusui adalah untuk menyaksikan susuan. Boleh melihat kemaluan untuk menyaksika kelahiran.

7. Memandang kepada budak untuk dibelinya

Memandang budak atau hamba untuk dibelinya, hukumya boleh asalkan terbatas pada yang dibutuhkan (dalam ukuran umum) saja.

Itulah tujuh jenis pandangan seseorang terhadap lawan jenisnya yang penting kamu pahami. Semoga bermanfaat…

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...