fbpx
Beranda Gerakan Ultimatum Erdogan Soal Sengketa Mediterania, Problem Eksplorasi Gas Bumi dan Perseteruan Panas...

Ultimatum Erdogan Soal Sengketa Mediterania, Problem Eksplorasi Gas Bumi dan Perseteruan Panas Turki-Yunani

Harakah.idUltimatum Erdogan soal sengketa Mediterania memicu konflik baru dalam percaturan geopolitik dunia. Sengketa yang konflik yang dicipu perebutan hak eksplorasi gas bumi antara Turki dan Yunani.

- Advertisement -

Ultimatum Erdogan soal sengketa Mediterania memanaskan kembali perseteruan Turki dan Yunani. Setelah persoalan alih status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Kini dua negara tersebut tengah bersengketa terkait sengketa hak dan sumber daya di Mediterania. Turki dan Yunani bersikeras untuk mengeksplorasi dan mengelola ladang gas lepas pantai di Laut Mediterania timur. Masing-masing negara tersebut saling mengklaim perihal garis kontinental mereka. 

Persoalan sumber daya alam selalu menjadi awal terjadinya pertikaian dan sengketa antar negara. Apalagi terkait dengan gas alam ataupun minyak, yang memiliki daya jual mahal dan menguntungkan. Turki ingin mengeksplorasi Laut Mediterania timur, dimana ladang gas lepas pantai disana melimpah dan mampu menambah pendapatan bagi negara dua benua tersebut. Tetapi, hal ini tentu membuat Yunani berang, mereka mengklaim bahwa Turki telah melanggar garis kontinental mereka. Kondisi ini menjadi awal mula terjadinya sengketa tersebut.

Baca Juga: Surat-Surat Pendiri NU Tentang Wahabi, Perdebatan Tiga Kiai yang Mempersoalkan Islam Modern VS Islam Tradisional

Ketegangan antara Turki-Yunani memang tidak lepas terkait permasalahan politik dan ekonomi. Beberapa alasan dan faktor yang membuat Yunani menentang Turki akan sangat ditentukan oleh kebijakan politik pemerintah Erdogan yang tidak sepaham dengan pemerintah Yunani. Apalagi saat ini menyangkut persoalan eksplorasi gas bumi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Sengketa Mediterania dan Kepentingan Nasional Turki-Yunani 

Sebenarnya antara kedua belah pihak tengah menempuh jalan perundingan untuk menyelesaikan permasalahan sengketa Mediterania. Tapi, Turki-Yunani juga siap melakukan perang terbuka jika memang perundingan tidak menyelesaikan masalah. Melalui Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, menyatakan pihaknya telah memperingatkan Yunani untuk permasalahan Mediterania. Tetapi, jika Yunani tidak mengindahkan peringatan Turki, maka pihaknya siap apapun yang terjadi di lapangan nanti. 

Bagi Yunani, apa yang telah dialamatkan Turki kepadanya membuat mereka tak terima dan marah. Yunani menganggap Turki telah melakukan tindakan ilegal dan hal tersebut dinilai hanya upaya Turki untuk mengurangi ketegangan. Sedangkan, Eksekutif Uni Eropa (UE) dan Siprus juga mendukung adanya dialog antar kedua negara terkait kasus di Laut Mediterania timur. 

Persoalan eksplorasi sumber daya di Laut Mediterania timur ini memang sangat berarti bagi Turki dan Yunani. Kedua negara akan mempertahankan argumen dan klaim mereka atas Mediterania. Karena posisi yang strategis dan memiliki sumber daya gas yang melimpah. Selain itu, Turki dan Yunani juga mengamankan kepentingan nasionalnya. Bagi kedua Negara, gas bumi di Laut Mediterania timur adalah cadangan gas yang melimpah. Tentu hal tersebut menjadi alasan kedua negara tak mau kalah untuk mengeksplorasi kawasan tersebut.

Baca Juga: Arab Saudi Menangkap Ulama-Ulama Wahabi, Reformasi dan Politik Demokratisasi Arab ala Pangeran Salman

Menurut pernyataan Aljazeera, Erdogan siap dengan segala situasi dan hasil atas upaya eksplorasi di Laut Mediterania timur. Meski keduanya juga dimediasi oleh Uni Eropa untuk saling berdialog dan menentukan kebijakan selanjutnya. Pasalnya, Yunani merasa berada di pihak yang dirugikan atas upaya eksplorasi Turki di Mediterania. Bahkan, antar kedua negara juga tengah menyiapkan pasukan militernya, jika memang terjadi “perang terbuka” dan aksi saling serang untuk mempertahankan kepentingannya masing-masing.  

Pertikaian Turki-Yunani dan Kalkulasi Ekonomi

Ditengah ketegangan antara Turki dan Yunani. Prancis bakal memasok 18 jet unit tempur Dassault Rafale untuk melawan tetangga Mediterania-nya tersebut. Berdasarkan laporan media Yunani, Eurasiantimes, Selasa (1/9/2020), kesepakatan kontrak jual beli antara pemerintah Prancis dan Yunani sedang dalam tahap lanjut, yang akan membuat Angkatan Udara Hellenic menambahkan skuadron Rafale ke armada Lockheed F-16 Fighting Falcons, Dassault Mirage 2000, dan McDonnell-Douglas F-4 Phantom II mereka.

Kesepakatan tersebut dilaporkan akan selesai pada akhir tahun ini. Tetapi, berdasar laporan lain menyebutkan bahwa kesepakatan itu akan berlanjut dalam dua bagian, dengan bagian pertama adalah pembelian 10 unit jet tempur Rafale baru. Sedangkan tahap kedua adalah sisanya yang akan diberikan sebagai hadiah untuk Athena. Bahkan, delapan Rafale di antaranya yang hendak dijual Prancis ke Yunani tersebut adalah jet yang sama jenisnya dengan jet tempur yang membom fasilitas Turki di pangkalan udara al-Watiya di Libya.

Baca Juga: Politik Normalisasi AS dan Sengkarut Kepentingan Barat di Kawasan Teluk, Masa Depan yang Berbahaya Bagi Timur Tengah

Erdogan menyebut bahwa Yunani dan Prancis rakus atas persoalan eksplorasi ladang gas alam di Laut Mediterania timur. Ia akan menggunakan segala cara untuk mensukseskan upaya eksplorasi ladang gas alam di Laut Mediterania timur tersebut. Tetapi, ia juga membuka jalur perundingan damai dengan Yunani untuk permasalahan sengketa sumber daya alam ini. Tak heran kemudian lahir ultimatum Erdogan soal sengketa Mediterania tersebut.

Saat ini, Yunani dan beberapa negara lainnya juga tengah melangsungkan latihan militer. Kapal-kapal dari Siprus, Italia, dan AS juga ikut serta dalam latihan Yunani, sementara AS dan Italia juga telah mengadakan latihan dengan unit Turki. Meski hal ini disinyalir bukan karena ketegangan yang terjadi antara Turki dan Yunani. Tetapi, dalam hal sengketa sumber daya. Kemungkinan apapun bisa terjadi ditengah pertikaian antar negara. Kalkulasi ekonomi dan kepentingan masing-masing negara menjadi faktor pengambilan keputusan. Kita tunggu saja apa langkah selanjutnya antara kedua negara dalam mencari solusi mengatasi persoalan ini.

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...