Upaya Membukukan Al-Quran Pada Zaman Nabi Muhammad SAW

0
246

Harakah.idAl-Quran sudah dituliskan. Namun upaya pembukuannya sudah dirintis sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Inilah bentuk upayanya.

Allah menurunkan Al-Quran ke dunia melalui perantara malaikat Jibril, sesaat setelah diangkatnya Muhammad sebagai nabi, dan Rasul akhir zaman. Cara Al-Quran diwahyukan kepada  Nabi Muhammad melalui berbagai macam, salah satunya: malaikat Jibril memasukan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW tidak melihat bentuk wahyu, tetapi Ia merasa wahyu itu sudah berada dikalbunya. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur atau Mutawatir  kepada Nabi Muhammad SAW, yang saat itu dalam tempo  22 tahun 2 bulan 22 hari  lamanya.

 Al-Quran tidak diturunkan sekaligus, seperti: Taurat, Injil, atau kitab lainnya yang diturunkan sekaligus. Hal  ini bertujuan  kandungan Al-Quran mudah dipahami, dihafal bagian demi bagian sesuai dengan kebutuhan. Turunnya Al-Quran yang dilakukan berangsur-angsur seperti ini, Rasullah akan mudah memberi jawaban atas berbagai pertanyaan  berasal dari  umat Islam, maupun orang-orang kafir. 

Setelah Allah menurunkan Al-Quran berupa wahyu pada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Ia berupaya melakukan pemeliharaan dan menyampaikan wahyu tersebut kepada pengikutnya. Dari sinilah muncul pemikiran menulisnya dalam bentuk teks yang sudah diterima Nabi Muhammad SAW,  yang dikenal melalui tiga metode pemeliharaan Al-Quran yang telah berlangsung semenjak kenabian hingga akhir hayat Rasullah yaitu: 

Pertama: Jaminan dari Allah. Hal ini terlihat dari sikap Rasullah yang bersemangat tinggi saat menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, adalah seorang hafidz, meski awalnya masih belum lancar Jibril tidak kenal lelah membimbing  Rasullah mempelajari Al-Quran berulang-ulang sampai Allah SWT menegur Nabi SAW agar tidak tergesa-gesa.

Kedua:Hafalan Diketahui, Nabi Muhammad SAW, merupakan seorang Ummi, atau tidak pandai membaca dan menulis. Masyarakat Arab kala itu pun tidak mahir membaca atau menulis, karena itulah Nabi SAW fokus menghafal Al-Quran. Hafalan Al-Quran dimasa Nabi terus dilakukan dan dengan begitu keakuratan tiap huruf dari firman Allah SWT akan terjaga 

 Nabi SAW sering mengadakan ulangan bersama sahabat-sahabatnya. Nabi membacakan perlahan-lahan tiap ayat yang diwahyukan kepadanya. Selanjutnya para sahabat-sahabatnya tersebut diperintahkan Rasullah mengulanginya dan melafalkannya.

 Pada masa Nabi SAW    Ummi merupakan seorang yang istimewa,karena keistimewaan yang disebut Ummi, yaitu memiliki hafalan yang cepat dan kuat. Seorang Ummi saat itu pandai dan terbiasa menghafalkan syair dengan jumlah banyak. Di masa tersebut banyak dijumpai para sahabat yang hafal Al-Quran pada periode ini. Dari kejauhan terdengar indah suara mereka melafalkan Al-Quran.

Suatu hari Nabi Muhammad  SAW melakukan perjalanan menelusuri kota Madinah di malam hari. Diceritakan Nabi SAW sesekali berhenti dan mendekati rumah beberapa sahabatnya yang sedang membaca Al-Quran. Ketika itu, Nabi SAW memuji suara Abu Musa Al- Asy’ari yang dipandang indah dalam membaca Al-Quran oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika itu, Nabi SAW mengatakan,” Kamu tak tahu tadi malam aku mendengarkan bacaanmu. Sungguh, Allah telah menganugrahkan kepadamu seluring( suara indah) dari seruling keluarga Daud ( HR Bukhari)

Ketiga: Tulisan,  Ada beberapa sahabat yang mahir menulis saat itu, dan di antara mereka banyak yang pandai menulis, Nabi SAW menyuruh menuliskan ayat-ayat Al-Quran. Sahabat Rasullah SAW yang mahir menulis di era Mekah, yaitu: Abdullah bin Sa’ad, dan Khalid bin Sa’id.

Dikisahkan, setidaknya ada 65 sahabat yang ditugaskan Nabi SAW sebagai penulis wahyu. Keempat diantaranya yang akhirnya menjadi Khulafaur Rasyidin, adalah: Khalifah Utsman bin Affan, Umar bin Abi Thalib hingga Ali bin Abi Thalib. Beberapa media yang dijadikan tempat menulis ayat Al-Quran mulai dari ‘Usub atau pelepah kurma, batu halus berwarna putih atau Likhaf, Aktaf atau tulang unta, Aqtaf atau bantalan dari kayu yang biasa dipasang di atas punggung unta. 

Walaupun, ada upaya menuliskan Al-Quran sudah dilakukan sejak masa Rasullah, tulisan-tulisan tersebut belum terhimpun dalam satu mushaf. Saat itu, tulisan Al-Quran yang ada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Sebab, Rasullah masih menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Selain itu, Al-Quran tidak dituliskan pada zaman Nabi, agar Ia tidak berubah pada setiap waktu. Penulisannya  dilakukan sesudah  semua  mushaf Al-Quran lengkap.

Demikian upaya membukukan Al-Quran pada zaman Nabi Muhammad SAW. Itu dirintis dengan melakukan hafalan dan penulisan. Upaya membukukan Al-Quran merupakan upaya untuk menjaga dan melestarikan Al-Quran itu sendiri.