fbpx
Beranda Kabar Ustaz Arifin Ilham, Tali Tasbih Zikir Umat

Ustaz Arifin Ilham, Tali Tasbih Zikir Umat

Harakah.id – Di tengah hiruk pikuk proses dan penetapan hasil Pemilu/Pilpres 2019 serta kekhusukan ibadah di bulan suci ramadan, masyarakat Indonesia mendapat kabar duka wafatnya KH. Arifin Ilham. Ustaz yang sangat erat dengan majelis zikir ini menghembuskan napas terakhirnya di RS Penang, Malaysia, Rabu (22/5/2019).

Ustaz Arifin Ilham dirujuk ke rumah sakit di Penang, Malaysia, pada awal tahun 2019, setelah sebelumnya sempat dirawat di RSCM Kencana, Jakarta Pusat. Salah satu warisan terbesar, yang semoga menjadi amal jariyahnya, adalah majelis zikir az-zikra. Ucapan duka dan bela sungkawa pun disampaikan oleh tokoh-tokoh nasional dari berbagai latar belakang, termasuk organisasi Islam dan kemasyarakatan.

Di antara yang menjadi ciri khas dari KH Arifin Ilham ialah suara seraknya dan dalam. Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa yang menjadi tonggak kemantapan sang ustaz dalam menapaki jalan dakwah. Mengajak umat untuk senantiasa beribadah, berzikir mengingat Allah.

Menengok kiprah KH. Arifin Ilham, kita teringat ketika ia memulai aktivitas dakwahnya di tahun 1996. Jika di daerah Jawa, sejak lama umat Islam biasa menggelar zikir bersama, seperti istigoutsah, lain halnya dengan Jakarta dan sekitarnya. Kala itu, zikir berjamaah belum terlalu umum.

“Tahun 1996, zikir berjamaah saya mulai saat salat Subuh. Saya ajak tetangga rama-rama mulai tahun 1999. Jangan salah waktu itu cuma tujuh orang yang ikut, karena tetangga ada yang menertawakannya. Itu pun di masjid dekat rumah di Depok,” kata Arifin, dalam sebuah wawancara di Tribunnews.com, Rabu, (28/9/2016).

Sebelum itu, ia juga mengaku mulanya tidak suka zikir berjamaah. “Berzikir tadinya hanya untuk diri sendiri. Awalnya, saya malah enggak suka zikir berjamaah. Bahkan menertawakan orang yang melakukannya. Jadi, kalau ada yang menertawakan saat ini, tak saya salahkan. Dulu saya pun tak tahu dalilnya. Setelah tahu, baru saya pertimbangkan untuk melakukannya,” tutur pria yang mengenyam pendidikan di Fisipol UNAS ini.

Pada tahun 1997, ada satu peristiwa yang membuat kemantaban dakwah zikir Ustaz Arifin Ilham berlipat ganda. Ia merupakan sosok yang amat menyukai aneka binatang. Suatu hari, bersama warga, Ustaz Arifin Ilham mendapati seekor ular cobra melintas ketika anak-anak bermain. Ia berusaha menjinakkannya. Setelah berhasil ditangkap, ternyata ular tersebut sempat mematuk tangan Ustaz Arifin Ilham.

Akibat gigitan itu, Arifin Ilham harus dilarikan ke rumah sakit. Namun beberapa di antaranya menolak memberi perawatan dengan alasan peralatan tidak memiliki medis yang memadai. Kondisi pria kelahiran Banjarmasin, 8 Juni 1969 ini makin kritis hingga sejumlah dokter menyatakan bahwa kesempatan hidupnya tinggal satu persen.

“Asal tahu, pakar ular di Asia, Dr. H. Memet, sempat bilang kecil sekali peluang hidup saya. Diibaratkan cuma 0,1 persen. Kalau saya akhirnya sembuh, ini kuasa Allah semata,” tulis Tribunews dalam wawancaranya.

11 jam tidak mendapat pertolongan, kondisi Arifin tambah gawat. Ibu angkat Ustaz Arifin Ilham, Ny Cut mencoba mendatangi RS Saint Carolus, Jakarta Pusat dan langsung masuk ruang ICU. Infus pun dipasang di tubuhnya. Untuk membantu tugas paru-paru, jantung, dan hatinya yang telah sangat lemah, dokter memasukkan beberapa batang selang ke mulutnya.

Dengan pertolongan Allah, setelah satu bulan lima hari, dokter menyatakan ia telah melewati masa kritis dan memasuki masa penyembuhan. Kendati demikian, Arifin Ilham mengalami perubahan pada suaranya akibat pemasangan beberapa selang sekaligus dalam mulutnya dalam waktu yang cukup lama. Namun, mungkin inilah rencana Allah. Perubahan suara Arifin Ilham ini menjadikannya lebih mudah dikenal para jamaah hanya dengan mendengar suaranya.

Di sisi lain, selama dalam kondisi koma, Arifin memperoleh pengalaman yang begitu luar biasa. Bukan rasa sakit, tapi di alam bawah sadarnya ia berada di sebuah kampung yang sangat sunyi dan sepi. Di sana, ia berjalan-jalan untuk berkeliling. Ia menjumpai sebuah masjid. Ketika masuk di dalamnya, terdapat tiga shaf jamaah dengan pakaian putih. Salah satu jamaah kemudian memintanya memimpin mereka berzikir, mengingat Allah SWT.

Keesokan harinya ia kembali bermimpi. Hanya saja sedikit berbeda. Kali ini ia merasa berada di tengah kampung yang penduduknya berlarian ketakutan karena kedatangan beberapa orang yang dianggap sebagai jelmaan setan. Melihat kehadirannya, para penduduk pun berteriak dan meminta dirinya menjadi penolong mereka mengusir setan-setan tersebut.

Hari berikutnya ia kembali bermimpi. Kali ini ia diminta oleh seorang bapak untuk mengobati istrinya yang sedang kesurupan. Mendengar permintaan bapak tersebut, Arifin bergegas, tapi Allah berkehendak lain. Istrinya ternyata telah meninggal sebelum sempat ditolong Arifin. Berbekal pengalaman-pengalaman spiritual di masa kritisnya, Arifin pun memantapkan hatinya untuk menjadi pengingat manusia agar tidak lupa berzikir. Hingga akhirnya, pada tahun 1999, jamaah zikir yang ia pimpin tak hanya berasal dari tetangga-tetangga terdekat, tapi dari seluruh pelosok nusantara.

Banyak kegiatan yang dilakukannya. Salah satu yang paling berkesan adalah memimpin zikir untuk para narapidana di Cipinang. Menurut Arifin, kegiatan ini memberikan dampak yang sangat dalam sehingga banyak di antara narapidana tidak sanggup membendung air matanya, menyesali dosa-dosanya.

Meskipun banyak hujatan, Arifin juga telah melakukan zikir di LP Nusakambangan, yang antara lain juga diikuti oleh Tommy Suharto. Tahun 1998, Arifin mengisi ceramah di sebuah rumah di kawasan Condet, Jakarta Timur. Di sinilah ia bertemu dengan Wahyuniati Al-Waly, seorang muslimah taat, yang kemudian menjadi pendampingnya. (Republika.co.id, Ahad 26 Apr 2009)

Kian hari kian tahun, jamaah yang mengikuti zikir Arifin Ilham makin membludak. Hal ini menyita perhatian sejumlah partai politik untuk mengajaknya melenggang ke Senayan pada Pemilu 2004. Tapi Arifin Ilham menolak. Alasannya, ia tak mau tersekat oleh satu kelompok atau golongan tertentu. “Saya ingin sebagai rantai (tali) tasbih, yang dapat menampung semua umat,” tegas pria yang juga pernah nyantri di Ponpes Daarul Najah dan Ponpes Asyafi’iyah itu.

Kini, Ustaz Arifin Ilham telah berpulang. Semoga kita bisa menjadi rantai tasbih yang melanjutkan kegigihannya merangkul seluruh umat menciptakan ketentraman dengan zikir mengingat Allah. Alaa bi dzikrillahi tathmainul quluub. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...