Beranda Khazanah Ustaz Evi Efendi Yang Masih Perlu Belajar Bahasa Arab, Mengapa?

Ustaz Evi Efendi Yang Masih Perlu Belajar Bahasa Arab, Mengapa?

Harakah.idNamun anehnya terlihat jelas bahwa kemampuan bahasa Arab sang ustadz demikian buruknya. Hal ini tergambar dari caranya melafalkan huruf-huruf dan kosakata dalam bahasa Arab. Ustadz ini juga nampaknya tidak memiliki pemahaman yang konsisten ketika memulai dan menyambung bacaan Alquran.

Beberapa waktu ke belakang, kita melihat sebuah cuplikan ceramah seorang ustadz –sebut saja Evi Efendi, yang berbicara tentang keabsahan amaliah nisfu Sya’ban, dan validitas hadis-hadis tentang masalah ini.

Kita sedang tidak memfokuskan bahasan pada substansi dari ceramah sang ustadz. Permasalahan ini –amaliyah nisfu Sya’ban dan hadis di dalamnya- memang menjadi ranah perbedaan pendapat para ulama. Namun di sini kita hendak menyoal kelayakan sang ustadz untuk ikut terjun membahas masalah agama seperti ini.

Ustadz dalam video ini secara gamblang menyatakan bahwa amaliah nisfu Sya’ban adalah sesuatu yang tidak berdasar. hHadis-hadis tentang masalah ini adalah hadis-hadis palsu.

Namun anehnya terlihat jelas bahwa kemampuan bahasa Arab sang ustadz demikian buruknya. Hal ini tergambar dari caranya melafalkan huruf-huruf dan kosakata dalam bahasa Arab. Ustadz ini juga nampaknya tidak memiliki pemahaman yang konsisten ketika memulai dan menyambung bacaan Alquran.

Dari sini terlihat pemahaman bahasa Arab sang ustadz lebih rendah daripada orang awam sekalipun. Namun beliau telah berani berbicara dalam panggung ceramah di depan orang awam, bahkan ikut memvonis amaliah-amaliah yang umum dipraktekkan oleh sebagian kalangan masyarakat, serta dengan begitu percaya diri memberi penilaian palsu terhadap hadis-hadis.

Kemampuan bahasa Arab adalah indikator penting tentang penguasaan ilmu agama seseorang. Dalam standar muslim secara umum, memang tidak semuanya diwajibkan harus memahami bahasa Arab secara mendalam.

Akan tetapi bagi mereka yang terjun sebagai ustadz, atau membahas permasalahan agama pada tingkat tinggi, maka pemahaman bahasa Arab yang memadai adalah syarat mendasar.

Imam Syafi’i dalam kitab Ar-Risalah (84) berkata: ”Sepatutnya bagi setiap muslim mendalami bahasa Arab sedalam mungkin sesuai kemampuannya. Batas paling minimal dalam hal ini adalah agar mampu membaca ayat-ayat Alquran dan zikir-zikir dengan benar”.

Kalam Imam Syafi’i jelas sekali menekankan pentingnya belajar bahasa Arab, bahkan untuk orang awam sekalipun. Jadi cukup aneh jika penguasaan bahasa Arab bahkan masih dibawah standar minimal Imam Syafi’i, tetapi telah berani tampil sebagai penilai hadis dan penentu keabsahan amaliah orang lain di atas panggung.

Imam Ar-Razi dalam Al-Mahshul Fi ‘Ilmil Ushul (1/275) menjelaskan:

“لما كان المرجعُ في معرفة شرعِنا إلى القرآنِ والأخبار، وهما واردان بلغةِ العرب ونحوهم وتصريفهم، كان العلم بشرعنا موقوفًا على العلم بهذه الأمور،

Artinya: rujukan syariat agama adalah Alquran dan hadis-hadis nabi, sedangkan keduanya menggunakan bahasa Arab dengan sekelumit tata bahasanya, maka untuk dapat menguasai ilmu syariat ini, kita juga mesti menguasai bahasa Arab.

Perkataan Imam Ar-Razi di atas menunjukkan posisi pemahaman bahasa Arab sebagai syarat mendasar, jika hendak memahami ilmu agama dengan baik. Oleh sebab itu sudah selayaknya mreka yang tidak memenuhi syarat ini agar tau diri, tidak nyelonong masuk dalam panggung yang seharusnya hanya diisi oleh para ulama.

Al-Kisai’ dalam Simthun Nujum (2/201) pernah berkata:

من تبحَّر في علمِ النحو، اهتدى إلى سائر العلوم

Artinya: barangsiapa yang mendalami ilmu nahwu, maka ia pun akan dituntun untuk memahami ilmu-ilmu yang lain.

Apa yang disampaikan oleh ustadz dalam cuplikan video ini bersinggungan dengan kajian ilmu hadis dan ilmu ushul fikih. Jika tidak memiliki wawasan bahasa Arab yang memadai, maka kedua ilmu ini juga tidak akan dipahamai dengan baik. Oleh karenanya, sudah sepatutnya orang dengan modal bahasa Arab pas-pasan membatasi diri membicarakan hal-hal pelik dari kedua ilmu tersebut.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...