fbpx
Beranda Headline Wabah dan Respon Dunia Islam Abad Pertengahan

Wabah dan Respon Dunia Islam Abad Pertengahan [1]

Harakah.idDunia Islam abad pertengahan punya pengalaman banyak tentang wabah mematikan (black death). Bagaimana hubungan wabah dan respon dunia Islam abad pertengahan?

- Advertisement -

Pandemi wabah penyakit adalah pemain penting dalam gelanggang peradaban umat manusia.  Yang dimaksud penting di sini bukan berarti wabah penyakit itu dibutuhkan oleh manusia. Hanya saja, potensi kemunculan, dan pengaruh yang ditinggalkan olehnya benar-benar bukan perkara kecil. Sepanjang lintasan sejarah dunia, baik dari fakta yang telah diketahui atau belum, pandemi selalu menyisakan banyak sekali perubahan-perubahan besar, ia mungkin hanya kalah dari sedikit faktor saja, seperti perang atau penemuan besar seperti internet.

Yuval Noah Harari (dalam bagian awal bukunya Homo Deus: Masa Depan Umat manusia) menyebut Wabah penyakit sebagai satu dari tiga faktor yang berada di puncak mimpi buruk umat manusia, di samping perang dan kelaparan. Lain halnya dengan dua faktor lain, yang telah lebih dapat dikendalikan dan dicegah, wabah penyakit adalah tragedi yang paling sulit diatasi, bahkan untuk sekedar dipahami dan diprediksi.

Satu dari pandemi wabah paling dahsyat yang pernah terjadi di muka bumi adalah wabah Black Death atau maut hitam. Wabah sampai ini menyeruak pertama kali di Eropa, membunuh hingga 200 juta orang. Wabah ini begitu mengerikan, sesuai namanya, ia membuat kulit-kulit di bagian tubuh penderitanya menghitam akibat jaringan-jaringan di bawahnya mati.

Wabah ini juga menyebar ke beberapa kawasan Islam khususnya wilayah Afrika Utara dan Asia Barat. Selain dipandang dari efeknya yang dahsyat, wabah tersebut juga dihadapi manusia dengan bekal yang begitu terbatas. Pemahaman mereka terhadap wabah dan epidemiologi masih amat dangkal. Akhirnya respon terhadap wabah Black Death,  baik di Eropa maupun di Asia, menjadi isu yang penting. Bagaimana ia menjadi pelajaran untuk menghadapi pandemi yang sedang dan akan terus terjadi.

Pemahaman Masyarakat tentang Hakikat Wabah

Joseph A. Legan (dalam sebuah jurnal yang diterbitkan oleh James Madison University: The Medical Responses to The Black Death, hlm. 36), menyatakan ada tiga cara pandang yang dominan di kalangan masyarakat Islam kala itu, dalam melihat kemunculan wabah yaitu: (1) wabah merupakan proses penghapus dosa dan penyebab kesyahidan (meninggal dalam keadaan mulia), (2) seseorang tidak boleh keluar-masuk dari area yang menjadi penyebaran wabah, (3) dan tidak ada penularan dari penyakit karena ia semata-mata datang dari Allah.

Tiga prinsip yang menjadi arus utama ini merupakan pengaruh dari pemahaman hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Lihat Bukhari, No.3473 dan 2221.

Cara pandang terhadap merebaknya wabah dalam bingkai teks-teks keagamaan memang sangat dominan. Arus pemahaman semacam ini dapat disaksikan dalam karya tulis Ibn Hajar Al-‘Asqalani berjudul Bazlul Mal’un fi fadhli Tha’un. Al-‘Asqalani merupakan salah seorang ulama besar yang hidup dan menyaksikan tragedy tersebut saat di Mesir. Dalam bukunya, Al-‘Asqalani turut membahas Hakikat wabah sebagai hukuman kepada orang kafir dan keterlibatan jin dan setan dalam penyebarannya.

Tiga sudut pandang ini begitu mempengaruhi opini dan sikap umat islam terhadap peristiwa wabah tersebut. pandangan bahwa wabah sebagai bentuk hukuman bagi orang kafir, dan kasih sayang (di tambah pemberian status syahid bagi korban meninggal) untuk orang beriman memberi suatu efek ketenangan bagi masyarakat, dalam menghadapi bencana mengerikan (yang juga hanya dapat disikapi dengan cara yang mengerikan pula).

Larangan bepergian dari dan menuju kawasan yang telah dihinggapi wabah juga turut memberikan peran, meski larangan ini tidak ditaati sepenuhnya. Ada banyak bukti yang menunjukkan arus perpindahan penduduk cukup tinggi selama masa wabah, khususnya arus urbanisasi. Banyak orang di pedesaan yang kemudian lari menuju kota-kota besar. Hal ini dipengaruhi oleh banyak sebab. Pertama, ketersediaan dan akses terhadap makanan dan gaji (setelah wabah berlangsung bertahun-tahun dan menyebabkan guncangan ekonomi), di daerah perkotaan yang lebih bisa diharapkan. Kedua, daerah perkotaan memiliki bangunan masjid-mesjid besar, yang diyakini sebagai tempat suci, dan juga mengadakan acara seremonial keagamaan yang dipercaya dapat memberikan proteksi yang lebih “menjanjikan” dari wabah. (lihat: Michael W. Dols: The Comparative Communal Responses to Th Black Death in Muslim and Christian Societies, hlm.9).

Prinsip ketiga bahwa wabah penyakit tidak menular dari satu orang ke orang lain, juga menimbulkan efek yang sangat reaktif. (sama halnya dengan prinsip pertama) ia memberi sedikit rasa ketenangan bagi masyarakat. Namun, sebagian Intelektual Muslim juga menolak keras hal ini. Mereka secara tegas menyatakan transmisi wabah justru berasal dari penularan dari satu orang ke orang lain. Hal ini sekaligus menjadi kritik terhadap bentuk interpretasi hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah ini.

Diantara penolakan bahwa wabah penyakit tidak menular berasal dari Lisanuddin Ibnul Khathib (1313-1374) seorang penyair, penulis, ahli hukum, dokter di Andalusia. Beliau menulis satu kitab berjudul Muqni’at As-Sai’l ‘An Al-Mardh Al-Hai’l yang berarti “berbagai pertanyaan terkait penyakit yang mengerikan”. Dalam tulisan ini, beliau mengkritik banyak keyakinan tentang wabah yang diyakini umat Islam, berbagai anggapan yang berbasis dari ajaran agama, atau setidaknya interpretasi terhadap teks-teks agama.

Sayangnya apa yang dilakukan oleh Ibnul Khathib di masa itu justru berakibat buruk terhadap dirinya sendiri. Ia mengalami banyak persekusi, tuduhan-tuduhan anti agama hingga ateis. Ibnul Khathib sendiri kemudian tewas terbunuh, pembunuhan beliau dilatarbelakangi oleh banyak motif kebencian yang sudah menumpuk pada diri beliau, mulai diri motif politik, hingga kebencian kaum radikal. (lihat Az-Zirikli, Al-A’lam VI:hlm.235. Ibn Khalliqan, Syazaratuz Zahab I:hlm 69. Ibn Khaldun, Tarikhul Barbar, hlm 70).

(Bersambung)

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...