fbpx
Beranda Khazanah Wadi Hanifah, Lembah Indah Kota Riyadh Yang Jadi Bukti Arab Tak Hanya...

Wadi Hanifah, Lembah Indah Kota Riyadh Yang Jadi Bukti Arab Tak Hanya Gurun

Harakah.idAda kesan, atau bahkan stigma bahwa kawasan jazirah Arab adalah negeri gurun. Stigma ini tak selalu tepat karena ada kawasan subuh dan tempat-tempat indah di kawasan ini. Wadi Hanifah dekat kota Riyadh ini contohnya.

- Advertisement -

Di sebelah Barat laut kota Riyadh, dijumpai sebuah wadi, atau lembah yang sering, disebut Wadi Hanifah. Wadi Hanifah, adalah: lembah  yang memanjang hingga 120 kilometer dari utara ke selatan, memotong di tengah kota Riyadh, ibukota Arab Saudi. Nama lembah ini mengambil nama suku Arab kuno Bani Hanifah, yang merupakan suku utama di daerah tersebut. 

Di kawasan ini,  ada banyak kota dan desa yang terletak sepanjang lembah,  mulai dari: Uyaynah, Jubaila, Irqah, Diriyah, hingga Ha’ir. Sebagian besar suku Bani Hanifah selama berabad-abad sebelum Islam mereka tinggal didaerah ini berprofesi, sebagai: petani dan pedagang. 

Dikisahkan, dahulu di lembah wadi Hanifah terdapat kota yang dinamakan Hajar. Hajar, kemudian menjadi ibukota Yamamah, yang dipimpin oleh seorang gubernur bertanggung jawab atas sebagian  besar Arabia Tengah, dan Timur di era  Dinasti Umayyah,  dan Abbasiyah. Hajar,  dikelilingi beberapa wadi dan terkenal , dengan buah kurma,  dan bunga orchard. Konon kabarnya, nama asal mula kota ini diambil dari kata Arab Rowadhah (taman). Awalnya, merujuk  pemukiman  di mana terdapat banyak orchard

Ibukota Dinasti Saudi Pertama

Pada abad ke-14 kota ini digambarkan kota yang indah dan subur, dengan air melimpah. Wadi Hanifah letaknya di kawasan Distrik At-Turaif di ad-Dir’iyah. Konon kabarnya, daerah Distrik At-Turaif, adalah: ibu kota Dinasti Saudi pertama. 

Negeri Saudi Pertama asal dari leluhur keluarga Al-Saud, pendiri dan penguasa Arab Saudi hingga abad ke-18. Pada saat itu, di wilayah ini terdapat  tembok tidak melebihi 1 kilometer, yang masih menyimpan sisa-sisa arsitektur asli Riyadh di masa lalu. Benteng tembok tersebut dikenal, dengan nama Benteng Al-Masmak. 

Diriyah atau Dereyah, atau Dariyya berada ditepian Wadi Hanifa di barat laut Ibukota Arab Saudi, Riyadh. Kawasan Dariyah letaknya ditepian lahan basah dan berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Diriyya. Bagian utara Dariyya terdapat sejumlah taman, kebun palem, pemukiman hingga sebuah dam bernama Al-Lib bisa ditemukan disana. 

Reruntuhan kota tua Diriyah terletak di dua sisi lembah yang sempit dikenal dengan sebutan Wadi Hanifa berada di bagian selatan melalui ibukota Riyadh. Sebagian besar struktur bangunan terbuat dari lumpur bata. Di bagian lain terdapat bangunan rumah utama tradisional dengan kolom-kolom jendela raksasa. Daun pintu terbuat dari kayu dan sebagian besar kontruksi bangunan adalah batu bata lumpur, jerami dan batang kayu. 

Kawasan Dariyah  terbagi 3 wilayah, yaitu: Ghussaibah, Al-Mulaybeed dan Turaif, yang dibangun di atas perbukitan menghadap ke lembah. Dari 3 wilayah tersebut, Thaif merupakan daerah tertinggi. Dariyah memiliki beberuapa situs penting mulai dari,  Pertama: istana Salwa. Istana Salwa terletak di Turaif memiliki 4 lantai, yang merupakan rumah pertama para amir Al-Saud dan para imam di masa awal Kerajaan Saudi berdiri. 

Komplek istana Salwa dibangun di era yang berbeda. Namun, komplek ini baru selesai di era Saud bin Abdul  Aziz Muhammad bin Saud tahun 1803-1814 M. Komplek istana Salwa  dilengkapi Museum Diriyah untuk memperkenalkan sejarah awal Saudi melalui pameran, kegiatan dan pertunjukan

Kedua, Istana Saad bin Saud terdiri beberapa lantai terkenal dengan taman kerajaan yang biasa digunakan beristirahat. Ketiga, Wisma tamu dan Pemandian At-Turaif, merupakan bangunan tradisional yang terdiri dari sejumlah taman dikelilingi kamar untuk para tamu. Pemandian Turaif dikenal gaya arsitektur beragam, karena menggunakan aneka material sebagai pelapis dindingnya. Keempat, Masjid Imam Mohammad bin Saud dibangun pada masa Muhammad bin Saud. Masjid ini juga menjadi edukasi agama bagi pelajar seluruh Semenanjung Arab. 

Di bagian lain terdapat kompleks yang terdiri dari  sejumlah  bangunan rumah utama tradisional lumpur,  dengan kolom-kolom jendela raksasa . Daun pintu terbuat dari kayu,  dan sebagian besar kontruksi bangunan,  adalah: batu bata lumpur, jerami, dan batang kayu dalam kota tua itu. kawasan ini terletak di lembah Wadi Hanifa Barat laut kota Riyadh ke-15,  akhirnya berganti nama menjadi Riyadh bertahan hingga sekarang

Situs Distrik At-Turaif di Ad-Diriyah  yang terletak kawasan lembah Wadi Hanifah menggambarkan perkembangan fase penting tentang pemukiman manusia di daratan tinggi Arab Tengah. Ia juga merupakan contoh bagaimana kehidupan sebenarnya dari pemukiman tradisional di lingkungan alam yang sebagian besar terdiri dari dataran gurun. 

Sempat Menjadi Tempat Pembuangan Sampah Industri

Riyadh yang semula sebagai desa terus mengalami perkembangan pesat menjadi kota . Pada tahun awal 1970 Riyadh tumbuh menjadi kota industri,  banyak dijumpai industri-industri yang akhirnya berdampak buruk bagi Wadi Hanifah. Pertumbuhan industri saat itu begitu mengkhawatirkan hingga mengancam ekosistem. 

Selain pertumbuhan industri, kawasan Wadi Hanifah terjadi penggalian batu dan tanah, ditambah penambangan mineral yang tidak terkendali hingga saluran air terhambat, karena pembuangan limbah pabrik yang tidak terkendali. Dampaknya banjir bandang musiman melanda pemukiman disekitarnya. Dahulu menuju ke lembah Wadi Hanifah tidak ada jalur dan rute membuat kawasan ini terisolasi.

Wajah Baru,  Wadi Hanifah

Kini, Wadi Hanifah berubah wajah setelah dilakukan restorasi di penghujung tahun 2010. Arsitek Moriyama dan Thesima bekerjasama dengan pemerintah Kota Riyadh melakukan rehabilitasi lingkungan dan penghijauan sepanjang Wadi Hanifa. Membuat bendungan air, penanaman pohon, hingga tempat pengolahan limbah modern menjadi program restorasi Wadi Hanifah. 

Fitur utama dari proyek restorasi Wadi Hanifah, Adalah menentukan saluran saluran aliran banjir, menimalkan dampak dari banjir, serta  membersihkannya dari puing-puing bangunan dan industri. Kerja keras dan keringat para arsitektur menampilkan wajah baru Wadi Hanifah akhirnya berhasil. Kini Wadi Hanifah bukan lagi tempat pembuangan limbah industri melainkan taman wisata keluarga. 

Taman wisata keluarga juga menjadi program pemerintah Arab Saudi  mengubah wajah Wadi Hanifah lebih berwawasan lingkungan. Lebih dari 30 ribu pohon akasia menghiasi wadi, kemudian dilengkapi jalan setapak sepanjang 7, 4 kilometer, tempat parkir, hingga suara  gemericik air dan udara sejuk menjadi tempat wisata keluarga di kota Riyadh. 

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...