Beranda Keislaman Hadis Wajibnya Beramal dengan Hadis Shahih Menurut Syekh Al-Albani

Wajibnya Beramal dengan Hadis Shahih Menurut Syekh Al-Albani

Harakah.id Fenomena Syekh Al-Albani telah menyita perhatian umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ia menentang berbagai tradisi Islam yang telah mapan. Karenanya, kemunculannya melahirkan kontroversi. Salah satu kontroversinya adalah wajibnya beramal dengan hadis shahih menurut Syekh Al-Albani.

Fenomena Syekh Al-Albani telah menyita perhatian umat Islam di seluruh penjuru dunia. Ia menentang berbagai tradisi Islam yang telah mapan. Karenanya, kemunculannya melahirkan kontroversi.

Al-Albani dilepaskan dari konteks dunia Muslim abad 20 dimana terjadi kebangkitan gerakan Salafisme di dunia Arab modern. Ada dua model Salafisme yang hadir pada era ini. Yaitu Salafi menurut versi kaum Wahhabi di Arab Saudi dan Salafi model gerakan reformasi sebagaimana dikembangkan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir dan Suriah.

Salafisme model kedua ini timbul sebagai respon terhadap apa yang mereka sebut sebagai ‘kemunduran umat Islam’. Sebagai solusi, mereka menawarkan agenda reformasi terhadap pemikiran dan praktik keagamaan umat Islam. Reformasi pemikiran merupakan agenda utama karena mereka melihat bahwa saingan mereka, Barat, maju karena pemikiran yang canggih. Karenanya, mereka merasa perlu menggerakkan aktivitas ijtihad; pemikiran keagamaan secara rasional yang bertumpu pada teks Al-Quran dan hadis.

Al-Albani berangkat dari kegelisahan atas kondisi sosial, dimana terjadi kemunduran dunia Islam. Di sinilah Al-Albani menyambut agenda reformasi pemikiran yang dikembangkan kelompok Abduh-Ridha yang ingin mengembalikan agenda ijtihad. Semangat ini menginginkan rasionalisasi, kejelasan dan ketegasan dalam ide-ide keislaman. Sebagai akibatnya, pemikiran ini meniscayakan penolakan terhadap mazhab pemikiran yang telah mapan. Terutama dalam persoalan hukum Islam tradisional yang terikat dengan empat mazhab hukum utama; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.

 Al-Albani mulai terpesona dengan Rasyid Ridha, murid Abduh di Suriah, terutama berkaitan dengan kajian hadis, yang dituangkan dalam Majalah Al-Manar. Ia akhirnya memutuskan belajar hadis secara otodidak di Perpustakaan Zahiriyah, di Damaskus, Suriah.

Ia kemudian rajin menghadiri majelis ta’lim yang mengangkat tema seputar kajian hadis. Di antaranya, ia menghadiri majelis Syekh Bahjah al-Baitar, salah satu ulama di Suriah yang terafiliasi dengan gerbong Salafi Reformis Abduh.

Syekh Bahjat Al-Baitar adalah murid Jamaluddin Al-Qasimi, penulis kitab Qawaidud Tahdits dan Tafsir Mahasinut Ta’wil. Jamaluddin Al-Qasimi juga masih sejawat dengan Rasyid Ridha.

Kesaksian sebagai seorang Salafi (Reformis) pernah disampaikan oleh murid Al-Baitar, di antaranya, Ali Tantawi (aktivis Ikhwanul Muslimin). Ali Tantawi berkata:

: «وكان اتصالي بالشيخ بهجـة قد سبب لي أزمة مع مشايخي، لأن أكثر مشايخ الشام ممن يميلون إلى الصوفية، وينفرون من الوهابية، وهم لا يعرفونها ولا يدرون أنه ليس في الدنيا مذهب اسمه الوهابية، وكان عندنا جماعة من المشايخ يوصفون بأنهم من الوهابيين، على رأسهم الشيخ محمد بهجة البيطار. (رجال من التاريخ لعلي الطنطاوي ص 416)

Pertemuanku dengan Syekh Bahjat menimbulkan krisis antara aku dengan guru-guruku. Karena kebanyaka ulama Suriah adalah orang-orang yang condong kepada kaum sufi. Mereka menjauhi paham Wahabisme. Mereka tidak mengenal paham Wahabisme ini, dan mereka tidak mengetahui bahwa tidak ada di dunia ini yang namanya mazhab Wahabi. Di kelompok kami, ada segolongan ulama yang disebut oleh mereka sebagai “Kaum Wahabi”, dimana pemimpinnya adalah Syekh Muhammad Bahjat Al-Baitar (Rijal Minat Tarikh, hlm. 416)

Di sini kita memahami bagaimana pemikiran Salafisme Al-Albani terbentuk; dimulai dari kekaguman terhadap Rasyid Ridha, kepercayaan yang tinggi terhadap studi hadis sebagai ujung tombak reformasi pemikiran Islam, hingga kedekatannya dengan tokoh Salafisme Reformis Suriah, Syekh Bahjat Al-Baitar.

Ketekunan Al-Albani dalam mengkaji mustalah dan praktik takhrij hadis yang dinaungi semangat reformasi Islam, telah mendorongnya membuat pilihan berbeda dengan tradisi penghormatan terhadap tradisi keilmuan dan keulamaan sebagaimana berkembang dalam kelompok tradisionalis.

Piliha berbeda itu misalnya dapat ditemukan dalam sikap Al-Albani terhadap kasus-kasus interaksi dengan hadis Nabi. Al-Albani mengembangkan 15 kaidah dalam berinteraksi dengan hadis. Hal ini ia tuangkan dalam dalam kitab Tamamul Minnah fi Ta’liq Fiqhis Sunnah. Sebuah kitab yang secara khusus menyoroti hadis-hadis yang digunakan dalam kitab Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq. Tokoh Salafi Reformis dari Mesir.

Pada dasarnya, Al-Albani menggunakan tradisi kritik hadis tradisional (mustalah hadis); ia merujuk Ibnu Hajar dan lainnya. Namun yang membuat Al-Albani berbeda dengan pengkaji hadis lain yang sezaman adalah ‘keberanian’ atau ‘kenekatan’ mengambil posisi dan sikap, berkomitmen pada prinsip yang diyakini dan menolak kompromi. Sekali lagi, ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh ideologi reformis Salafi yang mengajak pada upaya ijtihad langsung.

Di antara pemikiran Al-Albani yang pada akhirnya menjadi fondasi yang membedakannya dengan pengkaji hadis lain adalah penggunaan kaidah wujubul ‘amal bil hadits ash-shahih wa in lam ya’mal bihi ahadun (“Wajibnya beramal dengan hadis shahih, meskipun tidak ada orang yang mengamalkannya.”)

Dalam kitab Tamamul Minnah fi Ta’liq ala Fiqhis Sunnah, Al-Albani mengutip perkataan Imam as-Syafi’i dalam ar-Risalah sebagai dasar argumen. Menurutnya, Umar bin Khatthab tidak memakai riwayat dari keluarga Amr bin Hazm dalam masalah diyat. Padahal, keluarga tersebut telah mengamalkannya tanpa sepengetahuan Umar. Setelah menemukannya, Umar baru mengamalkannya (hlm. 40).

Al-Albani menyimpulkan bahwa keluarga Amr bin Hazm mengamalkan hadis yang mereka yakini sahih, sekalipun imam atau pemimpin saat itu tidak mengamalkanya. Ketika ditarik ke era kontemporer, prinsip ini akan mendorong orang untuk berani mengambil sikap mengamalkan hadis sahih, tanpa perlu takut sedikitpun, sekalipun harus berseberangan dengan para imam mazhab dan para ulama.

Kaidah ini patut mendapat perhatian pada level penerapannya. Karena, kemungkinan, jika kaidah ini dipahami secara tekstual, maka akan berseberangan dengan kaidah lain seperti nasakh dan kaidah khususiyyah. Hal ini karena ada sebagian hadis sahih yang tidak diamalkan oleh para ulama karena dianggap telah dinasakh atau menjadi hak khusus Nabi.

Sebagai contoh hadis tentang penyusuan lelaki dewasa yang dapat menciptakan hubungan keluarga (mahram) yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Mengikuti kaidah Al-Albani, wajibnya beramal dengan hadis shahih meski tak ada seorang pun yang mengamalkannya, maka berarti ketika ada lelaki dewasa hari ini menyusu kepada seorang perempuan maka ia menjadi anak susuan si perempuan.

Para ulama terdahulu menghapus kandungan hukum hadis ini. Ada juga yang menyebutnya sebagai ketentuan khusus dari Nabi kepada keluarga tersebut. Di sini, perlu penelitian lebih lanjut tentang apakah Al-Albani menggunakan kaidah ini dengan konsisten atau membuat perbedaan dengan prinsipnya.

Demikian ulasan singkat tentang Wajibnya Beramal dengan Hadis Shahih Menurut Syekh Al-Albani. Semoga bermanfaat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...