Beranda Keislaman Ibadah Waktu Imsak, Dianjurkan Imam As-Syafi’i, Dibilang Bid’ah Wahabi

Waktu Imsak, Dianjurkan Imam As-Syafi’i, Dibilang Bid’ah Wahabi

Harakah.idTradisi imsak, menyudahi sahur sepuluh menit sebelum masuk waktu subuh, digugat oleh kaum Wahabi di Indonesia. Padahal, Imam Syaf’i dan para ulama Syafi’iyyah menganjurkannya. Inilah keterangan dalam kitab-kitab babon mazhab Syafi’i.

Memang benar, bahwa batas waktu akhir makan sahur itu saat fajar shadiq telah muncul (azan Subuh). Namun bukan berarti syariat menganjurkan untuk kita berhenti mepet sekali dengan azan atau bahkan pas azan. Bukan demikian yang dimaksud. Ini pemahaman tekstual terhadap dalil. Yang tepat, hendaknya seorang telah berhenti dari makan sahur “beberapa waktu” sebelum azan. “Beberapa waktu” inilah yang diistilahkan dengan waktu imsak oleh para ulama. Kira-kira sepuluh sampai lima belas menit sebelum azan.

Hal ini sebagai langkah ihtiyath (berhati-hati). Karena kalau mempet sekali atau bahkan pas di waktu azan, sangat berpotensi menyebabkan puasa batal. Karena mungkin ada sekian waktu (walaupun singkat, misal sekian detik atau menit) dimana seorang masih makan di waktu yang seharusnya sudah berhenti. Atau sedang makan dan minum, ternyata sudah azan. Mau tidak mau harus berhenti.

Belum lagi, kita umumnya berpedoman dengan azan, bukan melihat langsung fajar shadiq. Namanya orang azan, tentunya dia azan setelah masuk waktu. Artinya kalau azan dikumandangkan oleh muazin, itu artinya waktu subuh sudah masuk atau berjalan sekian menit. Kalau kita masih makan satu menit sebelum azan, misalkan, berarti waktu itu sebenarnya sudah masuk waktu terlarang. Belum lagi kalau muazinnya terlambat azannya.

Jadi, kondisi paling ideal dan aman, hendaknya seorang sudah berhenti dari makan sahur di waktu Imsak, yaitu sekitar 10 atau 15 menit menjelang azan Subuh. Di rentang waktu antara imsak sampai azan subuh, bisa digunakan untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di mulut dengan gosok gigi ataupun untuk yang lain. Pas azan, sudah beres semua tinggal salat. Dalil waktu imsak ini sebuah riwayat dari Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit beliau berkata :

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، قُلْتُ: كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟ ” قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan Sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku (Anas bin Malik) bertanya : Berapa kadar waktu antara adzan dan (selesai) makan sahur ? Dia menjawab : Sekitar lima puluh ayat”.(HR. Bukhari : 1921. Simak juga no : 576).

Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H) rahimahullah menganjurkan untuk berhenti makan sahur beberapa saat/waktu sebelum fajar shadiq muncul (azan). Beliau berkata :

وَاسْتُحِبَّ التَّأَنِّي بِالسُّحُورِ مَا لَمْ يَكُنْ فِي وَقْتٍ مُقَارِبٍ يَخَافُ أَنْ يَكُونَ الْفَجْرُ طَلَعَ فَإِنِّي أُحِبُّ قَطْعَهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ

“Dianjurkan untuk pelan-pelan (tidak terburu-buru) saat makan sahur selama tidak di waktu yang mendekati bahwasanya dikhawatirkan fajar (shadiq) muncul. Maka aku menganjurkan untuk berhenti dari sahur di waktu tersebut (mendekati fajar shadiq muncul)”.(Al-Umm : juz II, hlm. 105).

Imam Nawawi (w. 676 H) rahimahullah juga mendorong umat muslim muslim untuk berhenti makan sahur ketika “sudah mendekati” azan. Kalimat “sudah mendekati” di sini menunjukkan ada jarak di antara keduanya (waktu antara berhenti makan sahur dan azan subuh). (Syarah Shahih Muslim : juz VII, hlm. 208).

Imam Al-Mawardi (w. 450 H) rahimahullah berkata :

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الأمساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر وَتَأْخِير (الْفطر) يَسِيرا بعد غرُوب الشَّمْس ليصير مُسْتَوْفيا مَا بَينهمَا

“Waktu puasa dimulai dari terbitnya fajar (shadiq) sampai tenggelamnya Matahari. Akan tetapi hendaknya sedikit mendahulukan untuk imsak (berhenti dari makan sahur) sebelum terbitnya fajar dan sedikit mengakhirkan berbuka setelah tenggelamnya Matahari agar menjadi sempurna apa yang ada diantara keduanya”.(Al-Iqna’ : hlm. 74)

Imam Ad-Dusuqi (w. 1230 H) rahimahullah dalam Hasyiyah-nya berkata:

فَقَدْ وَرَدَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤَخِّرُهُ بِحَيْثُ يَكُونُ مَا بَيْنَ فَرَاغِهِ مِنْهُ وَبَيْنَ الْفَجْرِ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الْقَارِئُ خَمْسِينَ آيَةً

“Maka telah datang riwayat, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakhirkan sahur dimana jarak waktu antara beliau selesai darinya (sahur) dengan fajar shadiq adalah seukuran waktu orang membaca lima puluh ayat”.(Hasyihah Ad-Dusuki : juz V, hlm.78).

Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari (w.926 H) rahimahullah berkata:

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْفَجْرِ قَدْرَ خَمْسِينَ آيَةً

“Yang sunnah, antara ia (makan sahur) dengan fajar (shadiq) adalah seukuran kira-kira lima puluh ayat”.(Asnal Mathalib : juz V, hlm.324).

Adapun hadits yang berbunyi : “Apabila salah seorang dari kalian mendengar adzan dalam kondisi bejana (air minum) ada di tangannya, jangan diletakkan sampai dia menunaikan hajatnya darinya (meminumnya)”. (HR. Abu Dawud)

Maksud kata “azan” di situ, adalah “azan pertama”, bukan azan kedua untuk salat subuh. Kemungkinan kedua, itu untuk seorang yang belum yakin akan munculnya fajar shadiq. Kalau sudah yakin, maka haram. Demikian dijelaskan oleh imam An-Nawawi rahimahullah dalam Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : (juz, VI, hlm. 311 -312).

Sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa waktu imsak itu bukan dari Islam, atau tidak ada dalilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu Imsak itu ijtihad jumhur (mayoritas) ulama mujtahidin yang dibangun di atas dalil, sebagaimana telah berlalu penyebutan keterangannya. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

26 Ramadhan 1442 H (Abdullah Al-Jirani)

REKOMENDASI

Demi 1 Hadis, Sahabat Nabi Ini Tempuh Jarak 4000 Km untuk Pastikan Hafalannya

Harakah.id – Kisah seorang sahabat yang rela menempuh jarak Madinah-Mesir hanya untuk mencocokkan satu hadis yang dihafalnya. Tidak...

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Dahulukan yang Mana? Ganti Utang Puasa Wajib Atau Berpuasa Syawal?

Harakah.id - Ganti utang puasa wajib atau berpuasa syawal? Mana yang harus dikerjakan dulu? Mungkin kalian bertanya-tanya. Dan simak artikel berikut...

4 Tujuan Puasa Yang Wajib Diketahui, Agar Ibadah Puasa Semakin Bermakna

Harakah.id - Puasa dalam Islam memiliki tujuannya sendiri. Berdasarkan petunjuk al-Quran, hadis, dan telaah para ulama, kita temukan sedikitnya empat tujuan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...