Satu Hal yang Mulai Hilang dari Iklim Keberagamaan Kita hari Ini: “Biasa Aja!”

0

Harakah.idDisadari atau tidak, “Biasa Aja” kini mulai hilang dalam tradisi keberagamaan kita. Semuanya disikapi terlalu serius dan kurang santai. Manusia lebih sering marah-marah daripada tertawa. Ini bahaya!

Suatu hari Rasulullah SAW menerima tiga orang tamu dengan wajah yang menampakkan raut serius. Setelah dipersilahkan masuk, tanpa menunggu waktu, ketiga orang ini langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Ketiganya hendak menyampaikan militansi dan kesungguhan mereka dalam beragama. Ketiganya hendak mencapai titik maksimal dalam tindak peribadatan kepada Allah SWT.

Yang pertama mengatakan dengan tegas bahwa ia akan shalat terus menerus tanpa memperdulikan rakaat dan istirahat. Yang kedua dengan menyakinkan menyatakan bahwa ia akan terus berpuasa untuk menaklukkan hawa nafsunya tanpa memperdulikan waktu berbuka. Tak mau kalah, yang ketiga juga berapi-api ketika menegaskan bahwa dirinya tidak akan menikah. Ia tidak memiliki tempat untuk perempuan dan anak karena seluruh hidupnya hendak dia abdikan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Melihat semangat beragama ketiga tamunya itu Rasulullah hanya tersenyum dan dengan telak meresponnya dengan sebuah kalimat bijak, “dibanding kalian dan seluruh manusia, aku tentu adalah hamba yang paling takut dan ta’at kepada Allah SWT. Meski begitu, aku shalat dan aku beristirahat; aku berpuasa dan juga berbuka; aku juga menikahi perempuan. Itulah kebiasaanku. Maka siapa saja yang tidak suka dengan sunnah-sunnahku itu, maka ia bukan termasuk golonganku”. Jawaban tersebut  tidak pernah diperkirakan sebelumnya oleh ketiga orang tadi. Tadinya mereka berharap akan dipuji-puji Rasulullah SWT karena militansi dan tekad keberagamaan mereka yang kuat itu. Tapi ternyata tidak!

Baca Juga: Memetakan Problem Keberagamaan Kita Hari Ini Dari Sudut Pandang “al-Munqidz Minad Dhalal”

Kisah ini sangat masyhur dan tertera dalam banyak sekali versi riwayat hadisnya. Pertanyaan besar yang bisa kita ajukan adalah mengapa Rasulullah tidak mengiyakan kehendak tiga orang sahabatnya itu. Jawabannya adalah karena Rasulullah SAW ingin Islam diwujudkan dalam iklim dan kondisi keberagamaan yang “biasa aja”. Terlalu lebay dalam beragama justru bisa melahirkan hal-hal yang bukan bagian dari ajaran agama itu sendiri. Di sinilah kemudian Rasulullah SAW meletakkan satu ajaran penting dalam setiap kegiatan beragama dan berislam, yaitu keberimbangan dan kesederhanaan.

Kalau kita amati beberapa Kiai di Nusantara, kata “biasa aja” seringkali muncul di setiap tausiyah dan respon mereka terhadap berbagai persoalan keberagamaan. KH. Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus sering menggunakan kata “biasa aja”. KH. Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur lebih dikenal dengan slogan “gitu aja kok repot!” yang memiliki nuansa yang sama dengan “biasa aja”. Akhir-akhir ini, KH. Baha’uddin Nur Salim atau Gus Baha’ juga kerap menggeluarkan kalimat “biasa aja” dan “jangan lebay” dalam pengajian-pengajian keagamaan yang beliau ampu. Dan kalau kita rinci satu per satu, saya kira seluruh Kiai dan Ulama kita kerapkali menggunakan kalimat “biasa aja” untuk menunjukkan sikap semacam apa yang harus kita tampilkan dalam beragama.

“Biasa aja”, baik yang diucapkan secara literlek, maupun sebagai pesan tersirat dalam hadis Nabi di atas atau tausiyah para Kiai kita adalah ajakan untuk mewujudkan ajaran agama dengan rileks, santai, sederhana dan tidak berlebihan. Nabi dan para Ulama sedari awal memang ingin menampilkan satu kegiatan keberagamaan yang asik dan tidak membebankan umat. Berlebihan dalam beragama justru akan menjatuhkan seseorang dalam lubang fanatisme buta yang hari ini memiliki banyak muka.

Kita bisa sebut beberapa dampak yang lahir dari cara beragama yang terlalu serius, kurang tawa dan lebay – meminjam kata Gus Baha’. Terorisme dan radikalisme adalah bingkai penyikapan terhadap cara beragama yang terlalu lebay dalam mendramatisir posisi inferior umat Islam dan teks keagamaan yang mengandung kata jihad. Mereka membayangkan kalau Islam isinya hanya perang dan Muhammad adalah Nabi dengan perawakan besar yang selalu menampakkan wajah garang. Hedonisme dan fetisisme agama juga merupakan bingkai penyikapan terhadap cara beragama yang terlalu berlebihan dalam meletakkan atribut dan simbol-simbol tertentu, mirip dengan lebaynya mereka yang menganggap bahwa yang Islami hanya terbatas pada simbol dan laku atributial tertentu. Keduanya memahami Islam sebagai bungkus, bukan isi.

Baca Juga: Mengenal Ibnu Aqil, Sosok Ahli Fikih yang Juga Terkenal Cerdas Memahami Hadis

Islam adalah substansi merupakan postulat yang harus kita sepakati. Gus Dur dalam banyak tulisannya selalu menekankan bahwa Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin justru karena Islam memberikan ruang bagi manusia untuk hidup sebagai manusia yang berbudaya dan berperadaban. Apa yang diwariskan oleh Islam adalah nilai-nilai substansial. Maka untuk urusan berbudaya, berbangsa dan bersosial, Islam menyerahkan bungkus sepenuhnya kepada umat yang hendak melaksanakannya.

Tak hanya dalam masalah sentuhan Islam dan Budaya, dalam beribadah pun kita dituntut untuk “biasa aja”. Rasulullah SAW pernah menegur Sahabat Mu’adz bin Jabal ketika ia mengimami terlalu lama. “Afattanun anta ya Mu’adz?” kata Nabi. “Apakah engkau akan membawa fitnah ke dalam agama ini?” Rasulullah SAW memberikan pemahaman “biasa aja” kepada Sahabat Mu’adz dengan menggambarkan bahwa orang-orang yang dia imami memiliki kondisi yang beragam dan berbeda dengan dirinya. Ada makmumnya yang pedagang, orang tua renta dan anak-anak kecil. Sebagai Imam, kesempurnaan dicapai ketika ia mampu memahami latar kondisi makmumnya dan memimpin shalat berjamaah secukupnya. Ya biasa-biasa aja…

Ada orang yang stres karena selalu kepikiran apakah shalatnya khusyuk dan diterima oleh Allah SWT. Dia menyibukkan diri untuk memikirkan sesuatu yang bukan menjadi wilayah kewenangan dia. Urusan diterima dan ditolaknya shalat adalah urusan Allah SWT. Yang menjadi kewajiban bagi kita hanyalah berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan seluruh ibadah sesuai dengan tuntunan syari’at yang ada. Ketika upaya tersebut sudah dilakukan dan shalat kita akhiri dengan salam, maka sudah sepatutnya kita berprasangka baik bahwa ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT. Apakah benar-benar akan diterima? Ya wallahu a’lam. Biarkan Allah SWT yang mengurusnya. Biasa aja…

Banyak sekali fenomena keberagamaan yang kita temukan hari ini, yang menunjukkan bahwa kita kehilangan satu kondimen paling penting dalam keberagamaan itu sendiri: “biasa aja”. Dan kalaupun kita amati, berlebih-lebihan dan lebay dalam beragama justru diterapkan oleh orang-orang yang kurang memahami seluk beluk ajaran agama itu sendiri. Maka presmisnya adalah: semakin dalam seseorang menyelami ajaran agamanya, semakin nyantai pula dia ketika menunaikannya. Sebaliknya, semakin dangkal pengetahuan seseorang akan agamanya, semakin keras pula dia ketika mengejawantahkannya.

Slogan “biasa aja” tentu bukan ajakan untuk meremehkan ajaran-ajaran agama ataupun menunaikannya dengan serampangan tanpa aturan. Nilai-nilai “biasa aja” adalah nilai-nilai keberimbangan yang harus dihadirkan untuk menciptakan satu pola keberagamaan yang proporsional dan mengandung nilai-nilai kesederhanaan. Islam harus ditampilkan sebagai rahmah, bukan sebagai marah. Islam harus dianggapkan sebagai sesuatu yang mudah, bukan sebagai sesuatu yang rumit. Dengan begitu iklim keberagamaan yang akan terbentuk adalah iklim keberagamaan yang penuh dengan nilai-nilai cinta, kasih sayang dan persaudaraan.

Jadi ya… biasa aja-lah!