Beranda Headline Yang Jarang Diketahui dari Kitab Fathul Mu'in, Dari Karakteristik Sampai Sanjungan Para...

Yang Jarang Diketahui dari Kitab Fathul Mu’in, Dari Karakteristik Sampai Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Harakah.idKitab Fathul Mu’in tak diragukan lagi adalah korpus penting dalam studi fikih di Indonesia, utamanya di pesantren-pesantren. Kitab Fathul Mu’in menjadi menu bacaan wajib yang harus dikunyah oleh kaum santri.

Kitab Fathul Mu’in merupakan kitab yang sangat fenomenal, hampir seluruh pesantren yang ada di bumi nusantara mengkaji kitab ini bahkan di beberapa pesantren kitab ini menjadi kajian utama. Kitab ini merupakah syarh dari sebuah kitab berjudul Qurratul Ain. Kedua kitab ini dikarang oleh seorang ulama’ besar dari Negara India yang bernama Syekh Abu Bakr Ahmad Zainuddin bin Muhammad al-Ghazzali bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad  al-Ma’bari al-Malibari al-Fannani as-Syafi’i al-‘Asy’ari di sebuah kota yang bernama chompal (menurut pendapat yang mu’tamad).

Terjadi kekeliruan yang mendasar bahwa kebanyakan orang menyangka Syekh Abdul Aziz merupakan nama ayah dari Syekh Ahmad Zainuddin karena memang mereka berpedoman pada beberapa cetakan kitab Fathul Mu’in yang di sana tertulis “Syekh Zainuddin bin Abdil Aziz al-Malibari”, tentu pandangan ini dibantah oleh beliau sendiri di dalam muqaddimah kitab beliau yang berjudul al-Ajwibah al-‘Ajibah halaman 2 bahwa Abdul Aziz itu bukanlah ayahnya melainkan pamannya. Redaksinya sebagai berikut:

فيقول أضعف العباد وأفقرهم إلى رحمة الجواد أحمد زين الدين بن محمد الغزالي المعبري الشافعي الخ…

“paling lemahnya hamba dan paling butuhnya hamba akan rahmat Allah SWT yang Maha Dermawan Ahmad Zainuddin bin Muhammad al-Ghazzali al-Ma’bari asy-Syafi’i berkata…..”

sebagaimana hal ini juga dikutip oleh Dr. Abdul Hakim bin Abdurrohim al-Kanafali as-Sa’di dalam kitab beliau Fathul Mu’in baina al-Muallafaat fi al-Fiqh asy-Syafi’i halaman 7 berikut:

وقد صرح الشيخ رحمه الله اسمه واسم والده في أول كتابه الأجوبة العجيبة وبعض خطوطه وذلك كما كتبناه وأن الشيخ عبد العزيز عمه لا والده كما صرحه في الأجوبة أيضا فلا اعتماد على ما يذكر.

“Syekh Ahmad Zainuddin telah menegaskan namanya dan nama ayahnya di permulaan kitabnya yang berjudul al-Ajwibah al-‘Ajibah dan itu sebagaimana yang telah kami tulis, dan sesungguhnya Syekh Abdul Aziz adalah pamannya bukan ayahnya sebagaimana yang ditegaskan beliau di dalam al-Ajwibah juga, maka kekeliruan yang ada dan tersebar itu tidak bisa dijadikan pedoman”

Prestasi yang gemilang tidak pernah luput dari guru yang hebat, ungkapan ini sangat pantas bagi syekh Zainuddin yang keberhasilannya dalam berbagai disiplin keilmuan tidak lepas dari bimbingan para guru yang berkelas dunia pun alim ‘allamah.

Setelah syekh Zainuddin berhasil mengkhatamkan hafalan al-Qur’an dan beberapa ilmu agama dasar di bawah bimbingan Ulama’ Malibar seperti Syekh Muhammad al-Ghazali yang merupakan ayahnya sendiri, Syekh Abdul ‘Aziz yang merupakan paman beliau, dan Syekh Isma’il as-Syukri, beliau kemudian melakukan pengembaraan ke Makkah Mukarromah.

Beliau banyak menuai berbagai disiplin keilmuan di Makkah, Syam, dan Mesir dari beberapa Ulama’ besar seperti Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Syekh ‘Izzuddin Abdul Aziz az-Zamzami, Mufti Hijaz Syekh ‘Abddurrohman bin Ziyad, Sayyid ‘Abdurrohman as-Shofwi, Syekh Abdul Aziz bin Zainuddin al-Ma’bari, dan Syekh Zainul Abidin Abu Bakr Muhammad bin Abi Hasan al-Bakri.

Masih belum berhenti di sini, beliau juga meminta fatwa terkait berbagai problematika kepada beberapa Ulama’ besar yang lain seperti Syekh Muhammad bin Ahmad ar-Romli (Romli Shoghir) dan Syekh Muhammad bin Khotib asy-Syirbini Syekh Abdullah bin ‘Umar ba makhromah, dan Syekh Abdurrouf bin Yahya.

Sanjungan beberapa tokoh

Seorang ulama’ besar fiqh Islam yang bernama Sya’ir Yamani mengatakan bahwa ketika seseorang ingin beruntung dan futuh dalam ilmunya, maka hendaklah dia menekuni kitab fathul mu’in. Pernyataan beliau ini dirangkai dalam sebuah gubahan sya’ir yang dikutip oleh syekh Muhammad Musliyar an-Nalkati dalam Kitabnya yang berjudul A’yanu Malibar  halaman 29 berbunyi:

يا من يريد النجاحا * وللعلوم افتتاحا

فتح المعين فلازم * له مساء وصباحا

واجعله خير سمير * تعط الهدى والفلاحا

غص في معانيه تلق * كنوز فتوى صحاحا

Wahai orang yang ingin beruntung dan futuh dalam ilmunya

Maka tekunilah Kitab Fathul Mu’in, sore dan pagi hari

Jadikanlah ia teman ngobrol, maka engkau akan mendapat petunjuk dan keberuntungan

Selamilah makna-maknanya, maka akan kau temukan banyak simpanan fatwa

Sayyid ‘Alawi bin Ahmad as-Saqqof dalam kitabnya Tarsyih al-Mustafidin halaman 2 juga menyanjung dan memuji-muji kitab Fathul Mu’in, beliau mengatakan bahwa,

“sesungguhnya kitab Fathul Mu’in karya Syekh Abdul Aziz al-Malibari (nama ini merupakan kekeliruan sebagaimana keterangan sebelumnya) ini merupakan kitab yang banyak manfaatnya, kitab yang agung di kalangan ahli ilmu, kitab ini merupakan inti sari/pokok dari madzhab syafi’i dan merupakan pilihan dari kalam mutaakhirin, serta menjauhi kata-kata asing dan bahasa yang menyimpang dari aturan”.

Berikut redaksinya:

إن كتاب فتح المعين للإمام العلامة والحبر الفهامة الشيخ عبد العزيز المليباري رحمه الله تعالى مما كثر نفعه وعظم عند أهل العلم وقعه ولإتيانه من مذهب الإمام الشافعي بالزبدة ومن كلام المتأخرين بالصفوة مع تجنبه النوادر واقتناصه الشوارد.

Karakteristik Kitab Fathul Mu’in

Seolah menjawab sebuah problematika atau opini publik yang sering terdengar ditelinga kita akan kerumitan kitab Fathul Mu’in, menurut pandangan penulis pribadi sebenarnya tidak ada sesuatu yang sulit dan rumit apabila didasarkan pada kesungguhan dan ketekunan dalam mempelajarinya.

Menurut Dr. Abdul Hakim bin Abdurrohim al-Kanafali as-Sa’di, tradisi ulama’ Malibar sendiri dalam mengajarkan dan membacakan Kitab Fathul Mu’in bisa menghabiskan waktu sekitar 6 tahun lebih dengan metode mengurai Ibarah dan membacakan Hawasyi (Jama’ Hasyiyah) dan Hawamisy (Jama’ Hamiys) nya Fathul Mu’in, serta kitab yang mempunyai hubungan dengan Fathul Mu’in seperti Kitab-kitabnya Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Romli, Syekh Khotib asy-Syarbini, dan Syekh Zakariya al-Anshori beserta Hasyiyah kitab tersebut.

Tak khayal lagi Kitab Fathul Mu’in ini menjadi rujukan utama di Malibar termasuk adanya tradisi Ulama’ Malibar di mana mereka saling menasehati untuk merujuk kembali Kitab ini ketika terjadi suatu problematika.

Oleh karena itu, Dr. Abdul Hakim menyebutkan ada empat belas karakteristik Kitab Fathul Mu’in yang menjadikan kitab ini memiliki keunikan tersendiri yaitu; Uslub Mantiqi dalam penyusunannya, sangat memperhatikan terhadap sebagian masalah yang diungkapkan dengan kata Far’un dan Tanbihun, menentang keras terhadap ahli bid’ah dan fasik, mengingkari terhadap praktik Hilah untuk meninggalkan ibadah, mengingkari adat yang mungkar, memperhatikan terhadap hajat manusia, menyesuaikan kondisi pada masa itu, memikat orang untuk lebih giat beribadah dengan menjelaskan keutamaan-keutamaan ibadah, mempertimbangkan kelalaian manusia, mempermudah manusia dengan menyebut qoul marjuh dalam beberapa masalah, corak tasawuf dan waro’, memperhatikan adab dalam penyusunannya, memperhatikan terhadap masalah-masalah kedokteran, menjelaskan mufradat/kosa kata yang asing.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...